REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Gianni Infantino menghadapi tekanan politik yang meningkat menjelang pemilihan Presiden FIFA 2027. Namun, gelombang kritik dari sejumlah konfederasi sepak bola tidak serta-merta menggoyahkan posisi Infantino yang masih memiliki basis dukungan luas dari berbagai kawasan.
Tekanan terutama muncul setelah kontroversi terkait rencana pembentukan FIFA Football Fund Enterprise (FFE). UEFA, Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC), dan CONCACAF menyuarakan keberatan terhadap proses pengambilan keputusan serta isu transparansi yang mengiringi rencana tersebut.
Meski demikian, Infantino telah mengambil langkah untuk meredakan persoalan tersebut. FIFA akhirnya membatalkan rencana FFE setelah mendapat masukan dari berbagai pihak. Langkah itu menunjukkan adanya ruang dialog sekaligus kesediaan FIFA merespons kekhawatiran anggota-anggotanya.
Di tengah polemik tersebut, dukungan terhadap Infantino justru tetap terlihat di sejumlah kawasan penting. Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF), misalnya, telah menyatakan dukungan terhadap Infantino untuk kembali memimpin FIFA pada periode 2027–2031.
Presiden CAF Patrice Motsepe mengatakan, sebanyak 54 asosiasi anggotanya secara bulat mendukung pemilihan kembali Infantino di Maroko tahun depan, dikutip dari Guardian, Rabu (9/9/2026). Dukungan dari Afrika menjadi salah satu modal politik penting bagi Infantino karena CAF salah satu blok suara terbesar dalam pemilihan presiden federasi sepak bola dunia.
Posisi Infantino juga relatif kuat di Amerika Selatan. Konfederasi Sepak Bola Amerika Selatan (CONMEBOL) tetap memberikan dukungan kepada kepemimpinannya, sementara sejumlah asosiasi nasional di kawasan tersebut turut menyatakan dukungan terhadap Infantino.
Di Asia, situasinya memang lebih dinamis. AFC secara kelembagaan menyampaikan keberatan terhadap persoalan FFE, tetapi sikap tersebut tidak otomatis berarti seluruh asosiasi anggotanya berpaling dari Infantino.
Sejumlah federasi Arab juga secara terbuka tetap mendukung Infantino. Qatar, Maroko, Mesir, Mauritania, Lebanon, dan Sudan termasuk negara yang menyatakan dukungan terhadap kepemimpinannya setelah kontroversi FFE mencuat.
Dukungan serupa datang dari Meksiko. Federasi sepak bola negara tersebut menyatakan dukungan terhadap kepemimpinan Infantino, menunjukkan bahwa sikap konfederasi tidak selalu identik dengan posisi seluruh asosiasi anggota.
Kondisi itu memperlihatkan bahwa peta politik menjelang Kongres FIFA 2027 tidak sesederhana pertentangan antara kelompok yang mendukung dan menentang Infantino. Sistem pemilihan FIFA memberikan satu suara kepada setiap dari 211 asosiasi anggota, sehingga sikap masing-masing federasi nasional memiliki arti penting.
Infantino juga masih mendapatkan dukungan dari kawasan Oseania dan ASEAN. Federasi Sepak Bola ASEAN (AFF) sebelumnya menegaskan dukungan terhadap Infantino untuk melanjutkan kepemimpinannya, sementara Oseania juga secara umum berada di sisi Infantino meski Selandia Baru kemudian mengambil sikap berbeda.
Dengan pemilihan yang akan berlangsung di Rabat, Maroko, pada 18 Maret 2027, persaingan tentu masih panjang. Namun, jika melihat sebaran dukungan yang telah muncul, Infantino masih memiliki fondasi politik yang kuat untuk menghadapi tekanan dari sejumlah pihak.
Tekanan terhadap dirinya tidak dapat diabaikan. Akan tetapi, pembatalan FFE, terbukanya ruang evaluasi dan dialog, serta tetap bertahannya dukungan dari sejumlah kawasan menunjukkan bahwa posisi Infantino belum tergoyahkan menjelang pertarungan mempertahankan kursi Presiden FIFA.

5 hours ago
21
















































