Trump: Peradaban Iran akan Musnah jika Tak Patuhi Ultimatum

2 hours ago 14

PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump mengancam bahwa "seluruh peradaban akan musnah" di Iran pada Selasa 7 April 2026, jika negara itu tidak mengindahkan ultimatumnya untuk menerima tuntutan perang AS.

Peringatan Trump seperti dilansir France24 muncul setelah Garda Revolusi Iran (IRGC) mengatakan mereka akan merespons di luar kawasan dan merampas minyak dan gas AS serta sekutunya "selama bertahun-tahun" jika Washington melanggar "garis merah" Teheran.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

"Seluruh peradaban akan musnah malam ini, dan tidak akan pernah bisa dihidupkan kembali. Saya tidak ingin itu terjadi, tetapi mungkin akan terjadi," tulis Trump di platform Truth Social miliknya. "SIAPA TAHU?"

Trump tidak memberikan detail, tetapi telah mengancam bahwa militer AS dapat membom jembatan, pembangkit listrik, dan infrastruktur sipil Iran lainnya hingga kembali ke "zaman batu". Serangan terhadap infrastruktur sipil merupakan pelanggaran hukum internasional.

Trump telah memperpanjang tenggat waktu ultimatum sebelumnya, tetapi menyatakan bahwa tenggat waktu yang ditetapkan pukul 8 malam di Washington adalah yang terakhir.

Seperti dilansir PBS, dan retorika di kedua pihak mencapai puncaknya, membuat warga Iran tegang.

Trump mengancam akan menghancurkan semua pembangkit listrik dan jembatan Iran jika Teheran tidak mengizinkan lalu lintas kembali sepenuhnya di Selat Hormuz. Perairan ini dilalui seperlima minyak dunia pada masa damai.

Presiden Iran mengatakan 14 juta orang, termasuk dirinya sendiri, telah sukarela untuk berperang.

Tidak jelas apakah serangan udara terbaru terkait dengan ancaman Trump untuk menyerang jembatan.

Setidaknya dua target terhubung dengan jaringan kereta api Iran, yang sebelumnya diisyaratkan Israel mungkin akan diserang. Israel semakin sering melakukan serangan yang menurut mereka bertujuan untuk memberikan pukulan terhadap ekonomi Iran.

Serangan ke Pulau Kharg

Beberapa saat sebelum pernyataan itu, media Axios melaporkan, mengutip seorang pejabat senior AS yang tidak disebutkan namanya, bahwa militer AS melakukan serangan terhadap target militer di Pulau Kharg, Iran.

Kantor Berita Mehr melaporkan bahwa pesawat tempur AS dan Israel melakukan beberapa serangan udara di pulau itu, menyebabkan banyak ledakan.

Listrik di pulau tersebut dilaporkan padam setelah serangan terhadap 50 target di wilayah tersebut.

Pekan lalu, Trump mengklaim bahwa semua target militer di Pulau Kharg "telah dihancurkan sepenuhnya."

Ia juga menyatakan minatnya untuk "mengendalikan" minyak Iran, dan mengisyaratkan bahwa merebut Pulau Kharg, terminal ekspor minyak utama Iran, termasuk di antara opsi yang sedang dipertimbangkan.

Serangan juga terjadi sejumlah jalur kereta api di Iran. Bulan Sabit Merah Iran mengatakan jalur kereta api menjadi sasaran di Karaj dan Qazvin Iran. Sementara jembatan kereta api di provinsi Zanjan, Iran, menjadi sasaran serangan, menurut laporan media Iran, mengutip pejabat provinsi.

Sebuah proyektil peledak menghantam bangunan tempat tinggal di kota Shahriar, Iran, menewaskan sedikitnya 9 orang dan melukai 15 lainnya.

Seperti dilaporkan Anadolu, eskalasi regional terus berlanjut sejak Israel dan AS melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari, menewaskan lebih dari 1.340 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi saat itu, Ayatollah Ali Khamenei. Otoritas Iran belum memperbarui jumlah korban dalam beberapa hari terakhir.

Iran telah membalas dengan serangan pesawat tak berawak dan rudal yang menargetkan Israel, Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS, menyebabkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur serta mengganggu pasar global dan penerbangan.

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |