REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Krisis iklim tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga meningkatkan risiko kesehatan masyarakat. Cuaca panas ekstrem dan polusi udara dapat memberikan beban tambahan bagi jantung, paru-paru, ginjal, hingga otak, terutama pada kelompok rentan.
Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah dr Ade Imasanti Sapardan, SpJP, mengatakan peningkatan suhu, gelombang panas, cuaca ekstrem, serta memburuknya kualitas udara menjadi ancaman kesehatan yang perlu diwaspadai.
"Krisis iklim ini menimbulkan berbagai ancaman bagi kesehatan," kata Ade dalam pemaparannya di webinar Yayasan Cerah, Selasa (8/9/2026).
Menurutnya, panas ekstrem dapat meningkatkan beban kerja jantung. Ketika tubuh kepanasan, pembuluh darah di kulit melebar (vasodilatasi) untuk membantu mengeluarkan panas melalui keringat. Kondisi tersebut membuat jantung harus memompa darah lebih cepat.
Panas juga meningkatkan risiko dehidrasi. Kombinasi pelebaran pembuluh darah dan kekurangan cairan dapat menurunkan tekanan darah sehingga seseorang mengalami pusing, kehilangan keseimbangan, hingga pingsan.
Dalam kondisi tertentu, tekanan darah yang turun juga dapat mengurangi aliran oksigen ke otot jantung. Kondisi ini dapat memicu iskemia atau kekurangan oksigen pada jantung yang berisiko berkembang menjadi serangan jantung. Jika gangguan aliran oksigen terjadi pada otak, risikonya dapat berupa stroke.
"Panas ekstrem ini bukan sekadar tidak nyaman, tapi dia adalah beban. Beban kesehatan akibat panas ini sudah terukur," ujar Ade.
Ia mengatakan panas ekstrem juga dapat memicu gangguan irama jantung atau aritmia serta memperburuk penyakit kronis yang sudah dimiliki seseorang. Risiko tersebut semakin besar ketika tubuh melakukan aktivitas fisik di luar ruangan.
Selain panas, polusi udara menjadi faktor risiko lainnya. Partikel halus PM2,5 dapat masuk jauh ke saluran pernapasan hingga bagian terkecil paru-paru dan memicu peradangan. Paparan polusi juga dapat meningkatkan risiko gangguan kardiovaskular dan penyakit pernapasan.
Ade menyebut polusi udara dapat menjadi "silent cardiovascular stressor" karena memicu peradangan, pembentukan trombus, dan iskemia. Pada paru-paru, paparan polutan dapat memperburuk asma, infeksi, dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).
"Jadi, hari yang sangat panas dan udara buruk, itu adalah kombinasi yang harus kita waspadai," katanya.

4 hours ago
13
















































