Gustiawan Rendi
Pendidikan | 2026-07-17 14:37:10
Publikasi di jurnal Scopus menjadi target banyak dosen, mahasiswa pascasarjana, dan peneliti karena memiliki reputasi internasional serta memberikan nilai tambah bagi karier akademik. Selain digunakan sebagai syarat kelulusan di beberapa perguruan tinggi, artikel yang terindeks Scopus juga sering menjadi persyaratan kenaikan jabatan fungsional dosen, hibah penelitian, hingga akreditasi institusi.
Namun, proses publikasi di jurnal Scopus tidak semudah mengirim artikel ke jurnal nasional. Setiap jurnal memiliki standar yang tinggi, mulai dari kualitas penelitian, kebaruan topik (novelty), metodologi, hingga proses peer review yang ketat. Oleh karena itu, penulis perlu memahami tahapan publikasi agar peluang artikel diterima menjadi lebih besar.
Berikut panduan lengkap cara publikasi jurnal Scopus yang dapat kamu ikuti.
Apa Itu Jurnal Scopus?
Jurnal Scopus adalah jurnal ilmiah yang telah terindeks dalam database Scopus, salah satu basis data sitasi terbesar di dunia yang dikelola oleh Elsevier. Jurnal yang masuk dalam indeks Scopus telah melalui proses evaluasi sehingga umumnya memiliki kualitas editorial yang baik, sistem peer review yang jelas, serta terbit secara konsisten.
Publikasi pada jurnal Scopus tidak hanya meningkatkan kredibilitas penelitian, tetapi juga memperluas jangkauan pembaca hingga tingkat internasional.
Cara Publikasi Jurnal Scopus
Ilustrasi publikasi jurnal. Foto: Canva
1. Tentukan Topik Penelitian yang Memiliki Kebaruan
Salah satu alasan utama artikel ditolak adalah karena tidak memiliki novelty. Penelitian sebaiknya tidak hanya mengulang penelitian sebelumnya, tetapi menawarkan temuan baru, pendekatan berbeda, atau solusi terhadap suatu permasalahan.
Sebelum menulis artikel, lakukan studi literatur agar mengetahui perkembangan penelitian terbaru pada bidang yang kamu teliti.
2. Pilih Jurnal Scopus yang Sesuai
Kesalahan yang sering dilakukan penulis adalah mengirim artikel ke jurnal yang tidak sesuai dengan ruang lingkup (scope). Akibatnya, artikel langsung ditolak oleh editor bahkan sebelum memasuki proses review.
Perhatikan beberapa aspek berikut saat memilih jurnal:
- Bidang keilmuan sesuai dengan penelitian.
- Masih aktif terindeks Scopus.
- Memiliki waktu review yang sesuai kebutuhan.
- Menerima jenis artikel yang akan dikirim.
3. Ikuti Template dan Author Guidelines
Setiap jurnal memiliki format penulisan yang berbeda. Oleh karena itu, unduh template resmi jurnal dan baca author guidelines sebelum mulai menyusun naskah.
Beberapa ketentuan yang biasanya diatur meliputi:
- format sitasi;
- jumlah kata;
- struktur artikel;
- jumlah referensi;
- format tabel dan gambar.
Mengabaikan pedoman ini dapat menyebabkan artikel dikembalikan untuk diperbaiki bahkan sebelum direview.
4. Gunakan Referensi Berkualitas
Jurnal Scopus sangat memperhatikan kualitas referensi yang digunakan. Sebaiknya gunakan referensi dari jurnal internasional bereputasi dan artikel yang terbit dalam beberapa tahun terakhir agar pembahasan tetap relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan.
Selain itu, gunakan aplikasi manajemen referensi seperti Mendeley, Zotero, atau EndNote agar sitasi lebih rapi dan konsisten.
5. Lakukan Proofreading Sebelum Submit
Apabila artikel ditulis dalam bahasa Inggris, pastikan tata bahasa, ejaan, dan struktur kalimat telah diperiksa dengan baik. Kesalahan bahasa dapat mengurangi kualitas naskah dan memengaruhi penilaian reviewer.
Tidak sedikit penulis yang menggunakan layanan proofreading profesional agar naskah lebih mudah dipahami oleh editor dan reviewer internasional.
6. Submit Melalui Sistem OJS atau Publisher
Setelah semua dokumen siap, lakukan submit melalui sistem yang digunakan jurnal. Umumnya kamu perlu mengunggah:
- manuskrip utama;
- cover letter;
- data penulis;
- file pendukung jika diperlukan.
Pastikan seluruh informasi yang dimasukkan sudah benar agar proses editorial berjalan lancar.
Proses Publikasi Jurnal Scopus
Secara umum, tahapan publikasi di jurnal Scopus meliputi:
- Initial screening oleh editor.
- Peer review oleh reviewer.
- Revisi apabila terdapat masukan.
- Keputusan editor (diterima atau ditolak).
- Copyediting dan layout.
- Publikasi online.
Durasi proses ini sangat bervariasi, mulai dari beberapa bulan hingga lebih dari satu tahun tergantung kebijakan masing-masing jurnal.
Kesalahan yang Sering Menyebabkan Artikel Ditolak
Agar peluang diterima lebih besar, hindari beberapa kesalahan berikut:
- Topik penelitian tidak sesuai dengan ruang lingkup jurnal.
- Tidak memiliki unsur kebaruan.
- Metodologi penelitian kurang kuat.
- Referensi terlalu sedikit atau sudah usang.
- Format artikel tidak mengikuti template jurnal.
- Tingkat kemiripan (similarity) terlalu tinggi.
- Pembahasan kurang mendalam dan tidak didukung data.
Dengan menghindari kesalahan tersebut, peluang artikel lolos proses review akan meningkat.
Tips Agar Publikasi di Jurnal Scopus Lebih Mudah
Publikasi di jurnal Scopus membutuhkan persiapan yang matang. Jangan terburu-buru mengirim artikel sebelum memastikan kualitas naskah benar-benar siap. Mintalah rekan sejawat atau pembimbing untuk memberikan masukan sebelum submit.
Jika kamu masih kesulitan menentukan jurnal yang sesuai atau membutuhkan pendampingan selama proses publikasi, menggunakan layanan jasa publikasi jurnal dapat membantu mulai dari pemilihan jurnal, pengecekan naskah, hingga proses submit sesuai ketentuan jurnal yang dituju.
Kesimpulan
Cara publikasi jurnal Scopus dimulai dari memilih topik yang memiliki kebaruan, menentukan jurnal yang sesuai, mengikuti pedoman penulisan, menggunakan referensi berkualitas, hingga menjalani proses review dan revisi. Karena standar jurnal Scopus cukup tinggi, penulis perlu mempersiapkan artikel secara maksimal sebelum melakukan submit.
Dengan memahami setiap tahapan dan menghindari kesalahan umum, peluang artikel diterima di jurnal Scopus akan semakin besar.
FAQ
Apakah semua jurnal internasional terindeks Scopus?
Tidak. Hanya jurnal yang telah lolos evaluasi dan terdaftar dalam database Scopus yang dapat disebut sebagai jurnal Scopus.
Berapa lama proses publikasi jurnal Scopus?
Tergantung kebijakan jurnal. Rata-rata membutuhkan waktu 3–12 bulan, bahkan bisa lebih lama.
Apakah mahasiswa dapat publikasi di jurnal Scopus?
Bisa. Selama artikel memenuhi standar ilmiah dan mengikuti ketentuan jurnal, mahasiswa juga dapat mempublikasikan artikelnya di jurnal Scopus.
Apakah publikasi di jurnal Scopus selalu berbayar?
Tidak. Ada jurnal Scopus yang tidak mengenakan Article Processing Charge (APC), namun banyak juga jurnal yang membebankan biaya publikasi kepada penulis.
Mengapa artikel sering ditolak oleh jurnal Scopus?
Penyebab yang paling umum adalah topik tidak sesuai dengan scope jurnal, kurang memiliki novelty, metodologi lemah, atau tidak mengikuti pedoman penulisan yang ditetapkan jurnal.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

1 day ago
26















































