GPCI Desak Pemerintah Ambil Diplomasi Darurat Bebaskan WNI yang Diculik Israel

1 week ago 33

PEMBINA Global Peace Convoy Indonesia (GPCI), Bachtiar Nasir, mendesak pemerintah segera mengambil langkah diplomasi darurat setelah kapal kemanusiaan Global Sumud Flotilla dicegat militer Israel dan menahan para WNI di perairan internasional.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Bachtiar Nasir meminta Kementerian Luar Negeri bergerak cepat memastikan keselamatan warga negara Indonesia yang tergabung dalam misi kemanusiaan menuju Gaza tersebut.

“Pemerintah Republik Indonesia, khususnya Kementerian Luar Negeri RI, agar segera mengambil langkah diplomatik darurat untuk memastikan keselamatan seluruh warga negara Indonesia yang tergabung dalam armada Global Sumud Flotilla 2.0,” kata Bachtiar Nasir dalam penyataan tertulis, Senin, 18 Mei 2026.

Menurut Bachtiar, armada tersebut merupakan misi sipil yang membawa bantuan kemanusiaan dan solidaritas bagi rakyat Gaza, bukan operasi militer. Karena itu, tindakan pengepungan dan intersepsi terhadap kapal merupakan pelanggaran hukum internasional dan hak asasi manusia.

Bachtiar menegaskan para delegasi Indonesia membawa misi kemanusiaan untuk membela rakyat Palestina yang hidup di bawah blokade dan krisis berkepanjangan. Selain mendesak pemerintah Indonesia, Bachtiar juga meminta Perserikatan Bangsa-Bangsa serta lembaga HAM internasional menekan Israel agar menghentikan intersepsi terhadap kapal sipil dan membebaskan seluruh aktivis yang ditahan.

“Jangan biarkan para relawan kemanusiaan menghadapi kekuatan militer tanpa suara pembelaan dari dunia,” katanya.

Bachtiar Nasir juga mengingatkan masyarakat agar berhati-hati menyebarkan informasi terkait insiden tersebut dan mengutamakan sumber yang tervalidasi demi keamanan para delegasi.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Yvonne Mewengkang mengatakan pemerintah belum dapat menghubungi kapal yang ditumpangi WNI hingga Senin malam, 18 Mei 2026,

Yvonne mengatakan pemerintah Indonesia juga belum mengetahui status kapal-kapal yang dicegat. Sampai saat ini, sedikitnya sepuluh kapal telah dikonfirmasi ditahan.

Kementerian Luar Negeri mendesak Israel segera melepaskan seluruh kapal dan awak misi kemanusiaan internasional yang ditahan. Pemerintah juga meminta Israel menjamin kelanjutan penyaluran bantuan kemanusiaan kepada rakyat Palestina sesuai hukum humaniter internasional.

Yvonne mengatakan Direktorat Pelindungan Warga Negara Indonesia Kementerian Luar Negeri telah berkoordinasi dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Ankara, Kairo, dan Amman untuk menyiapkan langkah antisipatif demi memastikan keselamatan para warga negara Indonesia dan mempercepat proses pemulangan mereka. “Situasi di lapangan masih sangat dinamis dan kemungkinan perkembangan tetap perlu diantisipasi,” ujar Yvonne kepada Tempo, 18 Mei 2026.

Kementerian Luar Negeri juga menyatakan terus menjalin komunikasi dengan berbagai pihak terkait untuk memperoleh informasi terkini mengenai kondisi para warga negara Indonesia. Selain itu, pemerintah menyiapkan langkah kontingensi, termasuk fasilitasi pelindungan dan percepatan pemulangan jika diperlukan.

“Pelindungan WNI akan terus menjadi prioritas utama Pemerintah Indonesia di tengah situasi yang berkembang sangat cepat,” kata Yvonne.

Koordinator Dewan Pengarah Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) Maimon Herawati mengatakan, ada sembilan WNI yang ikut dalam rombongan misi kemanusiaan internasional Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0. 

Menurut Maimon, puluhan kapal tersebut membawa 450 relawan dari berbagai negara yang tengah berlayar di Laut Lepas Mediterania. “Kami mendapat informasi Angkatan Laut zionis Israel mulai meng-intercepted laju kapal-kapal yang berlayar dalam misi menembus blokade,” ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta Selatan pada Senin malam, 18 Mei 2026. 

GPCI mendapat kabar bahwa militer Israel mulai mencegat kapal-kapal yang berlayar menembus blokade Gaza tersebut sekitar pukul dua siang, Senin, 18 Mei 2026. Kapal yang dicegat bernama Kapal Tabariyya (Cactus). Maimon mengatakan hal ini merupakan kondisi Siaga 1 bagi para relawan Global Sumud Flotilla.

Dalam misi tersebut ada beberapa delegasi kemanusiaan dari Indonesia yang tergabung dalam GPCI. Di antaranya gabungan beberapa lembaga kemanusiaan dari Dompet Dhuafa, Rumah Zakat, Spirit of Aqsa, SMART 171, dan juga jurnalis dari Republika, Inews, dan Tempo.

Daftar nama WNI yang ikut dalam rombongan di antaranya Herman Budianto Sudarsono dari GPCI-Dompet Dhuafa yang naik Kapal Zapyro; Ronggo Wirasanu (GPCI-Dompet Dhuafa) Kapal Zapyro; Andi Angga Prasadewa (GPCI-Rumah Zakat) di Kapal Josef; Asad Aras Muhammad (GPCI-Spirit of Aqso) Kapal Kasr-1; Hendro Prasetyo (GPCI-SMART 171) di Kapal Kasr-1.

Kemudian jurnalis Republika Bambang Noroyono di Kapal BoraLize; jurnalis foto Republika Thoudy Badai Rifan Billah di Kapal Ozgurluk; serta jurnalis Tempo Andre Prasetyo Nugroho dan jurnalis iNewsTV Rahendro Herubowo.

Herman Budianto yang berada di Kapal Zapyro bersama Ronggo Wirsanu bercerita melihat dua kapal perang tentara Israel mendekat ke kapal yang ia tumpangi. “Kapal perang ini menurunkan sekoci-sekoci bergerak mendekati, mengejar kapal-kapal kami,” kata dia dalam konferensi pers virtual pada Senin, 18 Mei 2026.

Dia mengatakan kapten dan kru kapalnya telah berpengalaman, sehingga bisa bermanuver menghindari kejaran kapal tentara Israel tersebut di tengah kondisi ombak yang naik-turun. Kapal Zapyro terbebas dari kejaran militer Israel.

Kapal Zapyro yang ditumpangi dua delegasi Indonesia, kata Herman, terus melanjutkan pelayaran hingga ke Gaza untuk menunaikan misi kemanusiaan buat warga Palestina. 

Dari sembilan daftar WNI yang ikut dalam misi ini, lima di antaranya diculik tentara Israel. Di Kapal Bolarize, ada jurnalis Republika Bambang Noroyono bersama dua warga Malaysia ditahan militer Israel.

Di Kapal Ozgurluk, ada tiga WNI yang diculik tentara Israel. Mereka di antaranya jurnalis TV Tempo Andre Prasetyo, jurnalis Republika Thoudy Badai, dan jurnalis iNews Heru Rahendro. 

Satu WNI lainnya, aktivis kemanusian Andi Angga, juga diculik bersama rombongan lain di kapal Josef.

Sementara itu, ada dua WNI yang kapalnya masih berlayar per Senin malam ini. Keduanya ialah Asad Aras dan Hendro Prasetyo dengan kapal Kasri Sadabad. Kemudian Herman Budianto dan Ronggo Wirsanu yang masih berlayar dengan Kapal Zapyro.

Data ini dikonfirmasi oleh Koordinator Media Global Peace Convoy Indonesia Harfin Naqsyabandy. "Lima delegasi (Indonesia) diculik, empat masih berlayar," kata dia di gedung Dompet Dhuafa, Jakarta pada Senin, 18 Mei 2026.

Novali Panji Nugroho dan Riani Sanusi Putri berkontribusi dalam penulisan artikel ini
Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |