Hemat Air Harus Jadi Kebiasaan, bukan Sekadar Pelajaran

8 hours ago 17

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Hendarman, Ketua Tim Pakar Jabatan Fungsional Analis Kebijakan INAKI (Ikatan Nasional Analis Kebijakan)/Dosen Sekolah Pascasarjana Universitas Pakuan, Bogor

​Musim kemarau kembali mengingatkan kita pada satu persoalan yang sering baru disadari ketika air mulai sulit diperoleh yaitu bahwa air bukanlah sumber daya yang tidak terbatas. Ketika air tersedia dari keran, kita cenderung menggunakannya tanpa banyak berpikir. Keran dibiarkan mengalir ketika mencuci tangan, air digunakan berlebihan saat membersihkan halaman, bahkan kebocoran kecil kadang dibiarkan berhari-hari.

​Persoalannya bukan semata-mata ketersediaan air. Persoalannya juga terletak pada perilaku manusia dalam menggunakan air. Edukasi hemat air tidak cukup hanya memberikan pengetahuan tentang siklus air, musim kemarau, kekeringan, atau pentingnya menjaga lingkungan. Anak-anak perlu mengalami, mempraktikkan, mengukur, dan membangun kebiasaan menggunakan air secara bijak.

​Sekolah memiliki posisi strategis untuk melakukan perubahan tersebut.

​Jangan Berhenti pada Teori

​Selama ini pendidikan lingkungan di sekolah sering berakhir pada pengetahuan. Murid mengetahui bahwa air penting bagi kehidupan. Mereka dapat menjelaskan siklus air dan mungkin dapat menjawab soal tentang konservasi lingkungan. Namun pertanyaan yang lebih penting adalah “apakah pengetahuan tersebut mengubah perilaku?”

​Seorang murid mungkin memperoleh nilai tinggi dalam pelajaran lingkungan, tetapi setelah keluar dari kelas tetap membiarkan keran terbuka. Ia mengetahui pentingnya air, tetapi belum tentu memiliki kebiasaan untuk menghemat air. Pendidikan perlu bergerak dari knowing menuju doing, bahkan lebih jauh menjadi being.

​Murid bukan hanya mengetahui bahwa air harus dihemat, tetapi melakukan penghematan dan pada akhirnya menjadikan hemat air sebagai bagian dari karakter dan kebiasaan hidup. Misalnya, sekolah dapat membuat gerakan sederhana yaitu setiap murid memastikan keran tertutup setelah digunakan; melaporkan kebocoran; menggunakan air secukupnya ketika mencuci tangan; menggunakan kembali air yang masih layak untuk menyiram tanaman; serta menghitung berapa banyak air yang dapat dihemat dalam satu minggu.

​Kegiatan sederhana tersebut justru dapat menjadi laboratorium pendidikan yang sangat nyata.

​Belajar dari Singapura

​Pengalaman Singapura menarik untuk diperhatikan. Negara ini memiliki keterbatasan sumber daya air sehingga pendidikan tentang air tidak diperlakukan sebagai teori semata. PUB (Public Utilities Board), badan pengelola air nasional di Singapura, bekerja sama dengan sekolah dan kementerian pendidikan telah mengembangkan kesadaran dan perilaku hemat air sejak usia dini. Programnya disesuaikan dengan jenjang pendidikan, mulai dari prasekolah hingga perguruan tinggi. PUB bertanggung jawab secara menyeluruh dan terpadu atas penyediaan air minum, pengelolaan air limbah, serta pengendalian banjir.

​Yang menarik adalah pendekatan yang dilakukan. Murid tidak hanya diberi penjelasan mengenai pentingnya air, tetapi diajak melakukan water audit, kegiatan lapangan, pembelajaran berbasis proyek, hingga simulasi pembatasan air. Dalam beberapa program, sekolah bahkan melakukan water rationing exercise. Dalam latihan ini, titik-titik air tertentu ditutup sehingga murid mengalami secara langsung bagaimana kehidupan berubah ketika akses terhadap air dibatasi. Pengalaman tersebut kemudian diikuti refleksi dan kegiatan konservasi.

​Salah satu contoh adalah Mee Toh School. Sekolah tersebut membentuk tim pengelolaan efisiensi air, melakukan audit penggunaan air, mengintegrasikan isu air ke dalam pembelajaran, serta melibatkan siswa dalam kegiatan konservasi. Hasilnya bukan sekadar perubahan pengetahuan. Penggunaan air di sekolah tersebut turun sekitar 30 persen antara 2019 dan 2022. Program tersebut merupakan bagian dari Applied Learning Programme (ALP) dalam pengelolaan lingkungan. Atas komitmennya yang luar biasa, sekolah dasar yang terletak di Punggol ini berhasil meraih penghargaan tertinggi di bidang tata kelola air dari pemerintah Singapura, yaitu Singapore Watermark Award.

​Contoh lain menunjukkan bahwa murid dapat menjadi water ambassador atau duta air. Mereka tidak hanya belajar untuk dirinya sendiri, tetapi juga mengajak teman dan keluarga melakukan penghematan air. Bahkan pada 2026, sejumlah sekolah di Singapura masih menggunakan simulasi pembatasan air, permainan edukatif, proyek siswa, dan kegiatan berbasis pengalaman untuk membangun kesadaran tentang air.

​Australia: Anak Menjadi "Waterwise"

​Pengalaman Australia juga patut menjadi pembelajaran. Di Australia Barat, Water Corporation telah menjalankan program Waterwise Schools selama tiga dekade. Program tersebut dimulai pada 1995 dan hingga 2025 telah menjangkau lebih dari 431.000 murid. Tujuannya bukan sekadar memberikan informasi mengenai air, tetapi membangun perilaku hemat air jangka panjang.

​Program tersebut menghubungkan pembelajaran air dengan kehidupan sehari-hari. Murid belajar dari mana air berasal, bagaimana air digunakan, mengapa konservasi diperlukan, dan tindakan sederhana apa yang dapat dilakukan.

​Lebih menarik lagi, sekolah didorong memiliki rencana aksi yang disebut dengan Waterwise School Action Plan. Di dalamnya terdapat kegiatan seperti pemeriksaan kebocoran, penunjukan murid sebagai pengawas atau junior water inspector, pengukuran penggunaan air sekolah secara berkala, audit air, pemberian penghargaan kepada siswa yang menunjukkan perilaku hemat air, dan pengangkatan sustainability ambassador.

​Pada 2026, program pembelajaran tersebut tetap dilakukan melalui kegiatan interaktif. Lebih dari 700 murid di kawasan Karratha, misalnya, mengikuti pembelajaran mengenai sumber air, kondisi lingkungan setempat, serta kebiasaan konservasi yang dapat mereka bawa pulang ke rumah.

​Gerakan yang Konsisten

​Indonesia tentu memiliki konteks yang berbeda. Kita bukan Singapura dan bukan pula Australia. Namun prinsip pendidikannya dapat diadaptasi. Sekolah di Indonesia dapat memulai dari sesuatu yang sangat sederhana. Misalnya, mengukur penggunaan air sebelum mengajarkan bagaimana menghematnya.

​Setiap sekolah dapat memiliki "Tim Sahabat Air" yang terdiri atas murid, guru, tenaga kependidikan dan pengelola sekolah. Tugasnya melakukan audit sederhana seperti berapa banyak air yang digunakan, di mana pemborosan terjadi, apakah terdapat kebocoran, dan kegiatan apa yang menggunakan air paling banyak. Selanjutnya dibuat target misalnya, sekolah ingin mengurangi penggunaan air 10 persen dalam tiga bulan. Murid dapat menjadi pemeriksa keran, mencatat penggunaan air, membuat poster, membuat video pendek, mengingatkan teman, dan menyampaikan hasil penghematan pada upacara atau pertemuan sekolah.

​Matematika dapat digunakan untuk menghitung volume air. IPA membahas siklus dan kualitas air. IPS membahas keterkaitan air dengan kehidupan masyarakat. Bahasa Indonesia digunakan untuk membuat kampanye. Seni digunakan untuk membuat poster. Pendidikan karakter membangun tanggung jawab.

​Pendidikan hemat air tidak akan efektif jika hanya dilakukan ketika musim kemarau atau pada peringatan Hari Air Sedunia. Pemerintah perlu menjadikannya sebagai gerakan yang berkelanjutan. Kementerian yang relevan, pemerintah daerah, sekolah, pengelola sumber daya air, dunia usaha dan masyarakat dapat membangun program yang misalnya disebut sebagai “Sekolah Bijak Air”.

​Indikatornya tidak harus rumit karena akan menyulitkan pencapaiannya. Misalnya: adanya audit air, pencatatan penggunaan air, pengendalian kebocoran, target pengurangan konsumsi, keterlibatan siswa, kegiatan pembelajaran berbasis proyek, serta keterlibatan keluarga.

​Sekolah yang berhasil bukan hanya diberi penghargaan karena memiliki poster paling menarik. Lebih penting lagi, sekolah dapat menunjukkan bahwa perilaku warganya berubah dan penggunaan air menjadi lebih efisien.

​Pada akhirnya, hemat air bukan sekadar slogan, melainkan perilaku yang harus dilatih. Anak yang sejak sekolah terbiasa menutup keran, menggunakan air secukupnya, melaporkan kebocoran, memanfaatkan air secara bijak, dan mengingatkan keluarganya, akan membawa kebiasaan tersebut hingga dewasa.

​Yang dilakukan tidak sekadar mengajarkan anak untuk menghemat beberapa liter air. Tetapi, membangun generasi yang memahami bahwa setiap tetes air memiliki nilai. Karena itu, sudah saatnya pendidikan tentang air bergerak dari "anak tahu pentingnya air" menjadi "anak melakukan penghematan air".

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |