IHSG Hari Ini Diperkirakan Bergerak Variatif, Investor Cermati Sentimen Global

2 hours ago 21

Layar digital menunjukkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (31/7/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali ditutup di zona hijau pada perdagangan akhir pekan ini. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG naik 0,80 persen atau 49,762 poin ke level 6.236,126, sekaligus menutup perdagangan akhir Juli di zona hijau.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin (31/8/2026) diperkirakan bergerak variatif. Pelaku pasar mencermati kombinasi sentimen global dan domestik yang berpotensi memengaruhi pergerakan indeks.

IHSG dibuka melemah 7,01 poin atau 0,11 persen ke posisi 6.511,11. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 turun 1,11 poin atau 0,17 persen ke posisi 640,71.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata mengatakan, secara teknikal peluang penguatan IHSG masih terbuka selama indeks mampu bertahan di atas level support tertentu.

"Selama IHSG mampu bertahan di atas di area 6.357, peluang penguatan masih terbuka untuk kembali menguji resistance 6.551, sebelum melanjutkan kenaikan menuju 6.635 dan 6.733. Sebaliknya, apabila tekanan jual kembali meningkat dan menembus support 6.454, indeks bisa terkoreksi menuju 6.385-6.377 sebagai support kuatnya,” ujar Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata dalam kajiannya di Jakarta, Senin.

Dari mancanegara, risiko geopolitik di kawasan Timur Tengah relatif mereda, khususnya terkait kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak. Pelaku pasar semakin memandang situasi Iran sebagai konflik yang lebih berfokus pada tekanan ekonomi dan sanksi dibandingkan ancaman langsung terhadap pasokan fisik.

“Membaiknya arus pengiriman melalui Selat Hormuz serta rencana pengembangan koridor Iran–Oman turut menurunkan premi risiko terhadap pasokan energi global,” ujar Liza.

Di sisi lain, pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh yang menilai inflasi belum menunjukkan perlambatan berarti meningkatkan kekhawatiran pelaku pasar. Kondisi tersebut mengindikasikan proses penurunan tekanan harga masih membutuhkan waktu lebih lama.

sumber : ANTARA

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |