Indonesia Infrastructure Finance (IIF).
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — PT Indonesia Infrastructure Finance (IIF) memperketat pengelolaan risiko iklim dalam pembiayaan proyek infrastruktur. Upaya ini dilakukan untuk menjaga ketahanan portofolio di tengah meningkatnya dampak perubahan iklim.
Komitmen tersebut disampaikan dalam Climate Risk Forum and Workshop yang diselenggarakan Climate Policy Initiative (CPI) di Jakarta, Selasa (22/4/2026). Forum ini diikuti pelaku sektor keuangan, pengembang proyek, hingga lembaga riset.
Presiden Direktur IIF Rizki Pribadi Hasan mengatakan, pengelolaan risiko iklim menjadi bagian penting dalam strategi bisnis perusahaan. “Pengelolaan risiko iklim adalah fondasi keberlanjutan bisnis IIF ke depan. Sebagai lembaga pembiayaan infrastruktur, kami memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa setiap rupiah yang kami salurkan tidak hanya layak secara finansial, tetapi juga tangguh terhadap risiko iklim,” kata Rizki, Selasa (27/4/2026).
IIF telah mengintegrasikan risiko iklim ke dalam tata kelola, strategi, dan proses bisnis sejak 2025. Implementasi dilakukan melalui kebijakan Climate Risk Management Policy yang disusun bersama CPI.
Sejak September 2025, IIF mewajibkan penilaian risiko iklim dalam setiap proyek baru. Penilaian juga dilakukan secara berkala terhadap portofolio yang berjalan sebelum diajukan ke komite investasi.
Hasil penilaian tersebut dilaporkan kepada komite manajemen risiko dan komite pemantau risiko. IIF menargetkan memiliki pemetaan menyeluruh atas eksposur risiko iklim dalam portofolionya.
Chief Risk Officer IIF Lestari Umardin mengatakan, integrasi risiko iklim menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan investasi. “Dengan Climate Risk Assessment, kami dapat mengidentifikasi, mengukur, dan memitigasi risiko fisik maupun transisi sejak awal,” ujarnya.
IIF juga mulai melakukan pengungkapan risiko iklim secara kualitatif dan kuantitatif, meski kewajiban pelaporan baru berlaku pada 2028. Pengungkapan mencakup tata kelola, manajemen risiko, serta data emisi.
Perusahaan telah menyusun metodologi penghitungan emisi yang mencakup scope 1, scope 2, dan scope 3. Metodologi tersebut telah diverifikasi oleh lembaga konsultan internasional.

4 hours ago
10

















































