Indonesia Darurat Sampah, Komunitas Generasi Hijau Hadirkan Kolaborasi

3 hours ago 9

KGH merupakan kolaborasi lintas sektor yang melibatkan sembilan lembaga, yaitu ICRES, Waste4Change, IAP2 Indonesia, Sekretariat Nasional (Seknas) Fitra, Core Indonesia, Anwar Muhammad Foundation (AMF), Greeneration Foundation, Citiasia Inc., dan Rumah Berkelanjutan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Indonesia menghadapi tantangan lingkungan yang semakin kompleks. Setiap hari, Indonesia memproduksi sekitar 143 ribu ton sampah. Dari jumlah itu, hanya sekitar 26 persen yang terkelola dengan baik. Hal itu menunjukkan penguatan sistem pengelolaan lingkungan masih menjadi pekerjaan bersama.

Secara nasional, timbulan sampah juga mencapai lebih dari 33 juta ton per tahun, dengan kontribusi terbesar berasal dari rumah tangga. Kondisi itu mengakibatkan persoalan lingkungan bukan hanya isu teknis, tetapi juga berkaitan dengan perilaku, sistem, dan tata kelola yang lebih luas.

Kesadaran publik dan berbagai pemangku kepentingan terhadap pentingnya keberlanjutan juga semakin menguat, mendorong lahirnya berbagai inisiatif dan gerakan kolektif. Dalam konteks inilah pembentukan Konsorsium Komunitas Generasi Hijau (KGH) menjadi bagian dari upaya memperkuat ekosistem kolaborasi yang telah ada.

KGH merupakan kolaborasi lintas sektor yang melibatkan sembilan lembaga, yaitu ICRES, Waste4Change, IAP2 Indonesia, Sekretariat Nasional (Seknas) Fitra, Core Indonesia, Anwar Muhammad Foundation (AMF), Greeneration Foundation, Citiasia Inc., dan Rumah Berkelanjutan. KGH hadir untuk mendorong pendekatan yang lebih terkoordinasi.

CEO Citiasia, Fitrah R Kautsar, menjelaskan, tantangan ke depan adalah memperkuat keterhubungan antarinisiatif. "Kita sudah punya banyak gerakan baik. Tantangannya sekarang adalah bagaimana menghubungkan dan memperkuatnya agar dampaknya bisa lebih besar dan berkelanjutan," ujar Fitrah dalam siaran pers di Jakarta, Selasa (28/4/2026).

Direktur Utama AMF, Aldi M Abizar, menyampaikan, kolaborasi sangat penting untuk mendorong perubahan nyata di daerah. "Perbaikan lingkungan harus terasa hingga ke daerah. Ke depan, Agentic AI berpotensi membantu memastikan intervensi lingkungan menjadi lebih tepat sasaran melalui analisis dan pemantauan berbasis data," ucapnya.

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |