Jejak Solo untuk Dunia, Warisan Kearifan Lokal dan Inner Peace Didorong Masuk Generasi Muda

21 hours ago 16
Upaya mengenalkan kearifan lokal Kota Solo ke tingkat dunia kembali digaungkan melalui kegiatan bertajuk “Jejak Solo untuk Dunia” yang digelar Yayasan Anand Ashram, Selasa (01/09/2026). Ando

SOLO, JOGLOSEMARNEWS.COM — Upaya mengenalkan kearifan lokal Kota Solo ke tingkat dunia kembali digaungkan melalui kegiatan bertajuk “Jejak Solo untuk Dunia” yang digelar Yayasan Anand Ashram, Selasa (01/09/2026).

Kegiatan tersebut mengangkat nilai-nilai kedamaian batin atau inner peace, keharmonisan, meditasi, serta kearifan budaya Jawa sebagai bekal bagi generasi muda dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

Wali Kota Solo, Respati Ardi, menyambut positif kegiatan tersebut. Menurutnya, nilai-nilai yang diwariskan para leluhur melalui serat dan berbagai ajaran budaya Jawa masih relevan untuk diterapkan pada generasi saat ini.

Respati menilai penguatan nilai tersebut penting di tengah berbagai persoalan yang dihadapi anak muda, termasuk perundungan (bullying) dan kekerasan.

Ia bahkan membuka peluang agar materi mengenai kearifan lokal dan latihan yang mendorong kesabaran serta kesehatan mental dapat diperkuat melalui pendidikan.

“Di muatan lokalnya, di ekstrakurikulernya itu harus ditambahkan seperti ini. Karena akan melatih kesabaran dan kesehatan mental,” ujar Respati.

Sementara itu, Ketua Yayasan Misi Anand Krishna sekaligus putra Anand Krishna, Prashant Krishna Gangtani, mengatakan kegiatan tersebut memiliki makna khusus karena digelar pada 1 September, yang merupakan hari kelahiran Anand Krishna yang lahir di Solo.

Menurut Prashant, sejak 22 tahun lalu pihaknya memperingati 1 September sebagai Hari Bakti bagi Ibu Pertiwi. Tahun ini, kegiatan tersebut dikemas dengan tema “Jejak Solo untuk Dunia”.

Warisan pemikiran Anand Krishna, kata dia, diharapkan dapat diteruskan kepada generasi muda melalui buku, meditasi, serta berbagai gagasan mengenai inner peace, communal love, dan global harmony.

“Yang kita mau membawa ke seluruh dunia. Sebagai visioner, dari buku-bukunya, dari latihan meditasinya, dari berbagai hal mengenai inner peace atau communal love atau global harmony,” kata Prashant.

Ia menjelaskan, tujuan utama kegiatan tersebut bukan hanya membicarakan perdamaian dalam skala global, tetapi memulainya dari diri sendiri.

Menurutnya, ketika seseorang mampu menciptakan kedamaian dalam dirinya, hal itu dapat berdampak pada keluarga dan komunitas di sekitarnya.

Dari sana, keharmonisan masyarakat hingga perdamaian dunia diharapkan dapat terwujud.

“Kalau kita menenangkan diri kita sendiri, kita menciptakan inner peace, kita bisa menenangkan keluarga, kita bisa menenangkan sebuah komunitas. Dan kalau komunitas, masyarakatnya, everything is in peace, pasti tercipta global harmony,” ujarnya.

Kegiatan tersebut diikuti berbagai kalangan, mulai dari akademisi, mahasiswa, tokoh masyarakat hingga pelajar.

Selain simposium dan diskusi, peserta juga diajak mengikuti sesi meditasi dan berbagi pengalaman.

Sementara itu, KGPH Adp. Panembahan Dipokusumo selaku keynote speaker menekankan pentingnya menggali kembali nilai-nilai kearifan lokal yang berkembang di Solo, khususnya yang berkaitan dengan sejarah Keraton dan perjalanan peradaban Jawa.

Menurutnya, berbagai nilai tersebut dapat menjadi bekal penting dalam menghadapi era globalisasi.

Ia juga menyoroti kecenderungan generasi masa kini yang menginginkan segala sesuatu secara instan tanpa melalui proses.

“Instan tidak memikirkan proses. Apa yang kita lihat, kita dengar sekarang semuanya sesuatu yang seolah-olah tanpa suatu proses. Padahal kita juga hidup ada proses,” katanya.

Ia mengajak generasi muda untuk memiliki ikhtiar, tekad, dan tujuan yang jelas. Nilai tersebut, menurutnya, tercermin dalam perjalanan pembangunan berbagai peninggalan peradaban, salah satunya Candi Borobudur yang tetap dapat dipelajari hingga kini setelah melewati proses panjang lintas generasi.

Direktur dan Founder Hapsari & FHD Motivation, RAy. Febri Hapsari Dipokusumo, menyoroti konsep global harmony yang menurutnya memiliki akar kuat dalam budaya Jawa.

Ia menyebut konsep yang saat ini dikenal dengan istilah mindfulness memiliki padanan dalam kearifan lokal, salah satunya melalui konsep mulat sarira, yakni kemampuan untuk melakukan introspeksi dan melihat ke dalam diri.

Febri menegaskan bahwa harmoni tidak berarti menyeragamkan perbedaan. Sebaliknya, keberagaman latar belakang, pola pikir, dan karakter justru dapat menjadi kekuatan untuk membangun kehidupan yang harmonis.

“Global Harmony itu bukan berarti keseragaman. Dengan perbedaan, dengan keragaman yang kita punya, pola-pola pikir yang berbeda, background-background yang berbeda, itu bagaimana kita bisa harmoni dengan sekitar kita,” ujarnya.

Ia juga menilai tingginya antusiasme peserta menunjukkan adanya kebutuhan masyarakat terhadap ruang untuk berhenti sejenak, melakukan refleksi, dan mencari kedamaian.
Menurutnya, kapasitas peserta yang semula sekitar 400 orang bahkan berkembang hingga sekitar 600 orang.

Febri berharap semangat toleransi, tepa selira, gotong royong, serta Bhinneka Tunggal Ika yang menjadi bagian dari nilai kehidupan masyarakat Indonesia dapat terus dikembangkan dari Solo.

Ia melihat Solo memiliki posisi penting sebagai salah satu kota yang menyimpan jejak sejarah, budaya, dan spiritualitas yang dapat memberikan kontribusi bagi peradaban dunia.

Tokoh Inspiratif Kota Solo 2026, Sumartono Hadinoto, turut memberikan apresiasi terhadap kegiatan tersebut. Ia menilai simposium budaya dan sesi meditasi memberikan manfaat bagi masyarakat, terutama dalam menghadapi berbagai tekanan kehidupan.

“Dengan mengikuti simposium budaya seperti ini, mudah-mudahan kita dapat terbantu untuk bagaimana kita mendapatkan bekal menghadapi segala situasi yang kurang baik ini,” ujarnya.

Melalui “Jejak Solo untuk Dunia”, para peserta diajak melihat kembali warisan budaya dan nilai-nilai leluhur bukan sekadar sebagai peninggalan masa lalu, melainkan sebagai sumber pembelajaran untuk menghadapi tantangan masa kini.

Semangat tersebut diharapkan dapat memperkuat posisi Solo sebagai kota budaya sekaligus menjadi titik awal penyebaran nilai kedamaian, toleransi, dan keharmonisan ke tingkat yang lebih luas. Ando

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |