Surabaya, CNN Indonesia --
Di antara ribuan calon jemaah haji yang akan berangkat ke Tanah Suci dalam waktu dekat, sosok Nikmatur Syafaroh (16) mencuri perhatian. Remaja putri itu tercatat sebagai jemaah haji termuda yang tergabung dalam kloter 05 asal Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur.
Santriwati Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan ini adalah jemaah haji pengganti. Ia berangkat ke Tanah Suci, Mekkah, menggantikan ibunda yang telah meninggal dunia tahun lalu.
Kini, siswi kelas Kelas X SMK itu berangkat naik haji berdua dengan ayahnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya menggantikan orang tua. Ibu. Jadi tahun ini berangkat sama ayah berdua. Ibu udah meninggal tahun 2025," kata Syafa, sapaannya, saat berbincang dengan CNNIndonesia.com di Asrama Haji Embarkasi Sukolilo, Surabaya, Rabu (22/4).
Syafa mengaku perasaannya campur aduk, antara bahagia sekaligus sedih.
Ia merasa beruntung bisa menunaikan Rukun Islam kelima saat masih muda, namun di sisi lain Syafa sedih karena ketidakhadiran ibu di sisinya.
"Senang, tapi ya sedih gitu. Ya kan enggak ada orang tuanya. Enggak ada ibu. Pasti ada doa khusus, ya semoga ibu diterima di sisi-Nya dan semoga masuk surga," ucapnya.
Saat ditanya soal persiapan, Syafa fokus pada mengaji dan memperdalam manasik. Sementara persiapan fisik dan olahraga sengaja dikesampingaknnya.
Perjuangan keluarga petani mencicil naik haji
Syafa mengungkap ayahnya adalah seorang petani, dan almarhumah ibunya hanya ibu rumah tangga.
Dia menjelaskan kedua orang tuanya berjuang menyisihkan uang sedikit demi sedikit untuk mendaftar haji sejak 2012 silam.
Bagi Syafa, melihat perjuangan ayah dan ibunya mengumpulkan rupiah demi rupiah adalah pelajaran hidup yang luar biasa.
"Tahu (perjuangannya). Nabung, nabung itu dari lama. Ayah saya petani, ibu rumah tangga," ucapnya.
Syafa juga sempat dihinggapi rasa dilema saat ingin berpamitan dari pesantren. Pasalnya ia berniat tidak kembali ke pondok setelah menunaikan ibadah haji nanti, karena ingin menemani ayah di rumah.
Namun, nasihat dari Nyai di Pesantren Sidogiri akhirnya menguatkan tekadnya untuk tetap menuntut ilmu sepulang dari Tanah Suci nanti.
"Enggak mau balik ke pondok lagi setelah haji, soalnya mau nemenin ayah. Kan itu kasihan ayah kan. Terus Bu Nyai bilang eh kasihan ibunya. Kalau di pondok itu pahalanya lebih besar gitu. Suruh mondok lagi. Akhirnya saya mau," ujarnya.
Jemaah haji Gen-Z
Meski berangkat haji di usia muda, ada satu hal yang ditolak Syafa dengan tegas, ia tak mau ada gelar 'hajah' di depan namanya. Kesombongan tak bisa mengalahkan kerendahan hatinya.
"Enggak mau [dipanggil hajah]. Dipanggil nama biasa aja," kata Syafa.
Selain itu, Syafa juga tetaplah remaja Gen-Z biasa yang memiliki daftar keinginan layaknya anak muda lain.
Ia sudah membayangkan akan berburu oleh-oleh khas Arab Saudi untuk teman-temannya.
"Ada yang nitip baju, ada yang nitip jajan gitu. Baju abaya," kata dia.
(frd/kid)
Add
as a preferred source on Google

22 hours ago
13

















































