Perang Iran Dorong Harga Solar AS Melangit, Efek Domino ke Pangan Terasa

53 minutes ago 15

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Perang dengan Iran kini tidak hanya terasa di medan tempur dan jalur pelayaran Teluk Persia. Dampaknya semakin dekat dengan meja makan masyarakat Amerika Serikat (AS), setelah harga solar melonjak ke level tertinggi sepanjang sejarah dan meningkatkan ongkos untuk menggerakkan truk, kereta barang, kapal, mesin pertanian hingga sistem pendingin yang menopang rantai pasok pangan.

Tekanan itu bahkan belum menunjukkan tanda mereda. Data American Automobile Association (AAA) yang tersedia untuk 5 September 2026 menunjukkan harga rata-rata solar secara nasional mencapai 5,8819 dolar AS per galon. Angka itu kembali memperbarui rekor setelah pada Jumat (4/9/2026) harga solar menembus sekitar 5,85 dolar AS per galon.

Dibandingkan setahun sebelumnya, ketika harga solar berada di sekitar 3,71 dolar AS per galon, lonjakannya sangat besar. Bahkan sebelum perang AS-Israel melawan Iran pecah pada akhir Februari, harga rata-rata solar masih berada di sekitar 3,76 dolar AS per galon.

Artinya, hanya dalam waktu sekitar enam bulan, biaya bahan bakar yang menjadi urat nadi transportasi barang di Amerika melonjak lebih dari dua dolar AS per galon.

Newspeg terbaru pada Senin (7/9/2026) semakin memperbesar kekhawatiran tersebut. Harga minyak mentah Brent bertahan di sekitar level tertinggi enam pekan setelah kembali terjadinya serangan antara AS dan Iran yang menyasar kapal dan tanker di kawasan Teluk. Brent diperdagangkan di kisaran 96 dolar AS per barel setelah sempat mendekati 98 dolar AS.

Ketegangan juga bertambah setelah Iran menyatakan akan mengumumkan zona terbatas baru di kawasan Teluk dan mengatur jalur pelayaran baru melalui Selat Hormuz. Jalur sempit tersebut merupakan salah satu titik paling strategis dalam perdagangan energi dunia.

Pasar energi pun kembali menghitung risiko terburuk. Goldman Sachs memperkirakan harga minyak dapat melonjak hingga sekitar 120 dolar AS per barel apabila serangan terhadap kapal-kapal di kawasan Timur Tengah semakin intensif dan mengakibatkan gangguan besar terhadap ekspor minyak.

Hormuz Membuat Solar Melambung

Akar persoalannya berada ribuan kilometer dari supermarket-supermarket Amerika. Perang yang dimulai pada akhir Februari telah mengganggu salah satu jalur terpenting dalam sistem perdagangan energi global, yakni Selat Hormuz.

Selat tersebut menjadi jalan keluar bagi minyak dan produk energi dari sejumlah negara produsen utama Teluk. Ketika kapal harus mengurangi perjalanan, menunggu pengawalan, mengubah rute atau menghadapi risiko serangan, biaya membawa setiap barel minyak ikut meningkat.

Tekanan itu kembali memburuk dalam beberapa hari terakhir. Data pelayaran yang dikutip Reuters menunjukkan lalu lintas kapal komoditas melalui Hormuz turun jauh di bawah kondisi normal setelah ketegangan militer kembali meningkat. Pada salah satu hari awal September, hanya empat kapal komoditas yang melintasi selat tersebut, dibandingkan rata-rata sekitar 13 kapal per hari dalam sepuluh hari sebelumnya.

Dua kapal tanker raksasa yang membawa minyak Saudi juga diserang ketika melintas keluar dari Hormuz pada awal September. Insiden tersebut memperbesar kekhawatiran bahwa kapal-kapal komersial semakin terseret langsung ke dalam eskalasi konflik.

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |