TIMNAS Argentina dan Spanyol menempuh jalan berbeda sebelum memastikan tempat di final Piala Dunia 2026. Argentina beberapa kali dipaksa bangkit dari situasi sulit, sedangkan Spanyol melaju lebih stabil dengan permainan yang terorganisasi sejak fase grup.
Perbedaan karakter perjalanan itu menjadi salah satu warna yang mewarnai partai puncak yang akan berlangsung di MetLife Stadium, New Jersey, pada Senin dinihari, 20 Juli 2026, pukul 02.00 WIB. Di satu sisi, ada Argentina yang mengandalkan mental juara dan pengalaman. Di sisi lain berdiri Spanyol dengan permainan kolektif yang konsisten sepanjang turnamen.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Sebagai juara bertahan, Argentina datang ke Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko dengan status favorit. Tim asuhan Lionel Scaloni tergabung di Grup J bersama Austria, Aljazair, dan Yordania. Albiceleste tampil meyakinkan pada fase grup. Mereka mengalahkan Austria, menundukkan Aljazair, lalu menutup penyisihan dengan kemenangan atas Yordania. Sembilan poin membawa Argentina lolos sebagai juara grup sekaligus mempertahankan konsistensi mereka di turnamen.
Namun, permainan Argentina tidak lagi seidentik saat menjuarai Piala Dunia 2022. Penguasaan bola bukan lagi fokus utama. Mereka lebih mengandalkan transisi cepat, efektivitas penyelesaian akhir, serta pengalaman pemain senior dalam mengendalikan ritme pertandingan.
Ujian sesungguhnya baru datang ketika memasuki fase gugur. Pada babak 32 besar, Argentina dipaksa bekerja keras sebelum mengalahkan Tanjung Verde 3-2. Laga berlangsung terbuka dan memperlihatkan lini belakang mereka masih bisa dieksploitasi lawan.
Kesulitan kembali muncul pada babak 16 besar saat menghadapi Mesir. Argentina bahkan sempat tertinggal dua gol sebelum membalikkan keadaan dan menang 3-2. Perlawanan sengit kembali mereka hadapi pada perempat final melawan Swiss. Bermain dengan 10 pemain sejak babak kedua, Swiss memaksa pertandingan berlanjut ke babak tambahan. Argentina baru memastikan kemenangan 3-1 lewat dua gol pada extra time.
Semifinal melawan Inggris menjadi ujian terberat Albiceleste sejauh ini. Anthony Gordon membawa Inggris unggul lebih dahulu. Namun, Argentina menunjukkan mental juara dengan mencetak dua gol menjelang laga usai untuk membalikkan keadaan dan mengamankan tiket ke final.
Perjalanan itu menunjukkan Argentina nyaris tidak pernah melewati fase gugur dengan mudah. Mereka memang tidak selalu tampil dominan, tetapi selalu menemukan cara untuk keluar dari tekanan. Pengalaman Lionel Messi dan para pemain senior menjadi salah satu faktor penting dalam perjalanan menuju partai puncak.
Spanyol Dominan
Sementara itu, Spanyol memperlihatkan karakter yang berbeda. La Roja tampil lebih terstruktur sejak fase grup. Ciri khas permainan berbasis penguasaan bola tetap dipertahankan, tetapi dengan sirkulasi yang lebih cepat dan vertikal. Pergerakan antarlini membuat mereka lebih efektif menciptakan peluang, sementara organisasi pertahanan membuat lawan kesulitan memperoleh kesempatan bersih.
Sejumlah pesepak bola Timnas Spanyol berfoto dalam pertandingan Grup H Piala Dunia 2026 di di Stadion Akron, Guadalajara, Meksiko, 26 Juni 2026 waktu setempat. ANTARA/Aditya Pradana Putra
Konsistensi itu berlanjut di fase gugur. Spanyol membuka babak 32 besar dengan kemenangan telak 3-0 atas Austria. Pada 16 besar, mereka menyingkirkan Portugal dengan kemenangan tipis 1-0 dalam laga yang berlangsung ketat.
Di perempat final, Belgia memberi perlawanan agresif sejak awal pertandingan. Namun, Spanyol tetap mampu mengendalikan permainan dan menang 2-1 untuk melaju ke semifinal. Penampilan terbaik mereka hadir pada empat besar. Tim asuhan Luis de la Fuente mengalahkan Prancis 2-0 dan memastikan tempat di final. Hasil itu semakin menegaskan status Spanyol sebagai salah satu tim paling konsisten sepanjang turnamen.
Berbeda dengan Argentina yang beberapa kali dipaksa bangkit dari tekanan, Spanyol lebih sering mengontrol jalannya pertandingan. Lini tengah menjadi pusat permainan, sedangkan organisasi pertahanan yang disiplin membuat lawan kesulitan menciptakan peluang. Mereka memang tidak selalu menang dengan skor besar, tetapi mampu menjaga ritme permainan hingga peluit akhir.
Final Piala Dunia 2026 juga mempertemukan dua pelatih yang memiliki hubungan unik. Luis de la Fuente dan Lionel Scaloni pernah berada dalam hubungan guru dan murid. De la Fuente menjadi salah satu pengajar saat Scaloni mengikuti kursus lisensi UEFA Pro di Ciudad del Futbol, Las Rozas, pada 2017.
Scaloni masih mengingat hubungan tersebut. Saat berbicara mengenai Spanyol pada Copa América 2024, ia menyebut De la Fuente sebagai sosok yang berpengaruh pada awal karier kepelatihannya. "Dia adalah profesor saya, Luis de la Fuente, di kursus kepelatihan," kata dia seperti dikutip dari CBS Sports. De la Fuente juga beberapa kali memberikan apresiasi kepada mantan muridnya itu dan menyebut Scaloni sebagai pelatih dengan kualitas luar biasa.
Perjalanan menuju final memperlihatkan dua pendekatan berbeda. Argentina datang dengan mental juara, pengalaman, dan kemampuan bertahan dalam tekanan. Adapun Spanyol mengandalkan permainan kolektif, penguasaan bola yang efektif, serta organisasi pertahanan yang disiplin. Dua karakter berbeda itulah yang akan saling berhadapan dalam perebutan gelar juara dunia 2026.


















































