Puluhan Pemulung Putri Cempo Gruduk Balaikota Solo, Sampaikan 3 Tuntutan

18 hours ago 24
Sejumlah pemulung dan warga sekitar Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Putri Cempo mendatangi dan menggelar aksi di Balai Kota Surakarta, Selasa, (01/09/2026). Ando

SOLO, JOGLOSEMARNEWS.COM — Sejumlah pemulung dan warga sekitar Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Putri Cempo mendatangi dan menggelar aksi di Balai Kota Surakarta, Selasa, (01/09/2026).

Karnik, Ketua Paguyuban Pemulung sekaligus warga RT 3, Jatirejo, Mojosongo, Jebres menjelaskan bahwa dalam aksi tersebut pihaknya membawa 3 tuntutan.

“Intinya tuntutannya tentang satu ekonomi, dua kesehatan, dan tiga lingkungan,” ungkapnya.

Menurut Karnik, secara ekonomi tentu berkurang. Kemudian untuk lingkungan, karena sampah masuk di TPA cuma residu. Sehingga warga RW 39, puluhan tahun lagi masih akan merasakan residu dan limbah pabrik.

“Kita sudah merasakan lebih dari 30 tahun limbah sampah. Kita minta kepastian warga dan pemulung itu mau dikasih AMDAL apa dikasih perjanjian apa gitu. Karena kita dari dulu DLH dari tahun 1986 sampai sekarang enggak ada perjanjian apapun,” terangnya.

Lebih lanjut, Karnik menambahkan bahwa pemulung Putri Cempo juga menuntut agar bising, debu, serta asap PLTSA Putri Cempo dihilangkan terlebih dahulu. Baru menjalankan operasional yang betul.

Selain persoalan lingkungan, Karni menyampaikan adanya warga yang mengeluhkan gangguan kesehatan, seperti sesak napas, batuk, dan gatal-gatal. Ia berharap pemerintah dapat memberikan perhatian terhadap kondisi kesehatan warga terdampak.

“Harapan warga dan pemulung kita cuma ingin diskusi sama Bapak Wali Kota di wilayah kita, biar Bapak Wali Kota itu mendengar keluh kesah warga dan pemulung,” ucapnya.

Sementara itu Walikota Solo, Respati Ardi, saat dimintai tanggapan terkait adanya aksi protes dari pemulung Putri Cempo tersebut.

Justru mengatakan bahwa berkurangnya sampah yang masuk ke TPA Putri Cempo sebagai bukti awal keberhasilan upaya penanganan sampah di Kota Solo.

“Kalau memprotes berkurangnya sampah yang masuk ke Putri Cempo, justru ini menunjukkan keberhasilan warga Solo dalam hal penanganan sampah,” ujar Respati.

Menurutnya, pengurangan sampah yang dikirim ke Putri Cempo merupakan bagian dari upaya mengakhiri pola open dumping dan memperbaiki sistem pengelolaan sampah.

Respati mengakui kebijakan tersebut berdampak terhadap pemulung yang selama ini menggantungkan penghasilan dari sampah di TPA. Karena itu, Pemkot menyiapkan alternatif melalui Rumah Siap Kerja, berupa pelatihan dan diversifikasi usaha.

“Kalau ada yang mungkin merugi akibat sampahnya berkurang ke TPA, kita sediakan solusi melalui Rumah Siap Kerja. Kami selalu membersamai rekan-rekan,” katanya.

Respati menegaskan, berkurangnya sampah di Putri Cempo merupakan bagian dari keberhasilan pemerintah dan masyarakat dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih baik. Ando

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |