Rusia Semprot 3 Negara Eropa: Bicara Damai tapi Terus Pasok Senjata ke Ukraina

4 hours ago 20

Pemandangan Kremlin, pusat pemerintahan Rusia.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Rusia melayangkan teguran keras kepada Prancis, Jerman, dan Inggris di tengah mandeknya upaya perdamaian perang Ukraina. Dalam pertemuan selama sekitar satu setengah jam di Moskow, Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Mikhail Galuzin menuduh ketiga negara Eropa itu justru mendorong Kyiv untuk terus melanjutkan perang melawan Rusia.

Kementerian Luar Negeri Rusia menyatakan para duta besar Prancis, Jerman, dan Inggris telah diberi penjelasan mengenai apa yang disebut Moskow sebagai kebijakan "destruktif" Barat terhadap konflik Ukraina.

Menurut Moskow, negara-negara Eropa terus memberikan dukungan politik dan militer kepada Ukraina sehingga memperpanjang perang yang telah berlangsung lebih dari empat tahun.

"Para kepala misi diplomatik telah diberi penilaian objektif mengenai kebijakan destruktif yang bertujuan mendorong rezim Kyiv melanjutkan perang melawan Rusia dengan dukungan langsung koalisi Barat," demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Rusia.

Pertemuan tersebut berlangsung hanya beberapa hari setelah Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menghadiri pertemuan tingkat tinggi di London bersama para pemimpin Inggris, Prancis, dan Jerman.

Dalam pertemuan itu, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer, Presiden Prancis Emmanuel Macron, dan Kanselir Jerman Friedrich Merz kembali menyatakan dukungan terhadap seruan Kyiv untuk menggelar pembicaraan langsung dengan Rusia guna mengakhiri perang, sebagaimana dilaporkan Euronews.

Namun Moskow menunjukkan sikap yang berbeda. Awal bulan ini, Presiden Rusia Vladimir Putin menolak usulan Zelenskyy untuk menggelar pertemuan tatap muka sebagai upaya mencari jalan keluar dari konflik yang telah menewaskan dan mengungsikan jutaan orang sejak 2022.

Duta Besar Prancis untuk Rusia Nicolas de Riviere mengatakan pembicaraan di Moskow berlangsung baik dan produktif. Ia menyebut pihaknya akan menyampaikan pernyataan resmi setelah pertemuan selesai.

Meski demikian, juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova langsung membantah penilaian tersebut.

Zakharova menuduh negara-negara Eropa hanya berpura-pura menyerukan perdamaian, sementara pada saat yang sama terus memperkuat kemampuan militer Ukraina.

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |