Terabaikan di Bumi, Mengapa Nama Manusia Jenis Ini Justru Sangat Terkenal di Langit?

8 hours ago 16

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ada orang-orang yang ketika masuk ke sebuah ruangan, tidak ada yang berdiri menyambutnya. Namanya tidak dikenal. Pendapatnya jarang didengar. Pakaiannya sederhana. Hartanya tidak banyak. Kehadirannya sering luput dari perhatian.

Namun boleh jadi, ketika namanya disebut di langit, para malaikat mengenalnya. Sebaliknya, ada manusia yang begitu dihormati di bumi. Kehadirannya disambut. Kursinya disediakan di barisan depan. Kata-katanya didengar. Kekayaannya dikagumi. Tetapi belum tentu ia memiliki kedudukan yang sama di sisi Allah.

Karena itulah ukuran manusia sering berbeda dengan ukuran langit. Kita hidup di zaman yang mengajarkan untuk mengagumi yang kaya, mengikuti yang terkenal, dan mendekati yang berpengaruh. Tanpa sadar, kita sering mengukur nilai seseorang dari apa yang tampak di mata. Padahal Allah melihat sesuatu yang tidak terlihat oleh manusia: hati.

Tentang hal inilah Alquran pernah menurunkan sebuah teguran yang sangat lembut sekaligus sangat menggetarkan. Teguran itu bahkan ditujukan kepada manusia terbaik yang pernah hidup, Rasulullah SAW.

Allah berfirman:

وَلَا تَطْرُدِ ٱلَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِٱلْغَدَوٰةِ وَٱلْعَشِىِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُۥ ۖ مَا عَلَيْكَ مِنْ حِسَابِهِم مِّن شَىْءٍ وَمَا مِنْ حِسَابِكَ عَلَيْهِم مِّن شَىْءٍ فَتَطْرُدَهُمْ فَتَكُونَ مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ

Wa lā taṭrudillażīna yad‘ūna rabbahum bil-ghadāti wal-'asyiyyi yurīdūna wajhah, mā 'alaika min ḥisābihim min syai`iw wa mā min ḥisābika 'alaihim min syai`in fa taṭrudahum fa takūna minaẓ-ẓālimīn.

"Janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan petang hari, sedang mereka menghendaki keridhaan-Nya. Kamu tidak memikul tanggung jawab sedikit pun terhadap perbuatan mereka dan mereka pun tidak memikul tanggung jawab sedikit pun terhadap perbuatanmu, yang menyebabkan kamu berhak mengusir mereka, sehingga kamu termasuk orang-orang yang zalim." (QS Al-An'am: 52)

Ayat ini turun ketika beberapa pembesar Quraisy mendatangi Rasulullah SAW. Mereka tertarik kepada dakwah Islam, tetapi mengajukan syarat yang sangat menyakitkan. Mereka tidak ingin duduk bersama para sahabat miskin seperti Bilal bin Rabah, Ammar bin Yasir, Shuhaib Ar-Rumi, Abdullah bin Mas'ud, dan orang-orang lemah lainnya.

Mereka berkata, kurang lebih: "Usirlah mereka dari majelismu. Kami malu jika orang-orang Arab melihat kami duduk bersama mereka."

Permintaan itu tampak sederhana. Namun sesungguhnya ia menyimpan penyakit yang sangat tua: kesombongan.

Mereka tidak mempersoalkan kebenaran Islam. Mereka tidak membantah Alquran. Mereka tidak menolak kenabian Muhammad SAW. Mereka hanya merasa status sosial mereka terlalu tinggi untuk duduk sejajar dengan orang-orang miskin. Di sinilah keindahan ayat ini.

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |