Tonggak Penting Dua Bank

12 hours ago 17

Oleh Ahmadie Thaha, Kolumnis

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ada berita penting yang nasibnya seperti pengumuman rapat RT yang ditempel di tiang listrik: resmi, menentukan masa depan, tapi nyaris tak ditoleh. Bank Indonesia (BI) pada 11 Juni 2026 menyiarkan kerja samanya dengan People's Bank of China.

Namun, siaran yang dimuat di situs remi BI itu hanya dibaca sekitar 1.400-an orang. Jumlah itu mungkin kalah jauh dibanding jumlah orang yang menonton video kucing jatuh dari meja atau perdebatan artis yang saling sindir di media sosial.

Padahal, Bank Indonesia sendiri menyebutnya sebagai "tonggak penting". Kalimat itu bukan istilah yang dipakai sembarangan oleh bank sentral. Ia biasanya muncul ketika ada sesuatu yang dianggap mengubah lanskap.

Namun, sebagaimana sering terjadi dalam bahasa birokrasi, hal paling penting justru disampaikan dengan nada paling datar. Yang disebut memang soal efisiensi transaksi, pengurangan biaya pemrosesan, konektivitas pembayaran lintas batas.

Juga, bahwa QR bisa berlaku lintas negara, serta soal penguatan infrastruktur keuangan. Yang tidak disebut secara terang-terangan adalah: ini merupakan bagian dari arus besar dunia untuk mengurangi ketergantungan pada dolar Amerika Serikat.

Dolar bukan sekadar mata uang. Ia adalah bahasa kekuasaan. Selama puluhan tahun, hampir semua perdagangan global penting berbicara dalam dialek dolar. Minyak dijual dengan dolar. Cadangan devisa ditumpuk dalam dolar.

Pembayaran lintas negara berputar melalui sistem yang sangat dipengaruhi oleh kepentingan Amerika Serikat. Akibatnya, siapa yang menguasai dolar, dalam banyak hal, ikut menentukan siapa boleh berdagang dengan siapa.

Tak heran bila sanksi ekonomi Amerika sering jauh lebih menakutkan daripada suara meriam. Sebuah negara bisa dikucilkan dari sistem pembayaran internasional, dibatasi aksesnya terhadap likuiditas, bahkan dipaksa bertekuk lutut tanpa satu pun tentara menyeberangi perbatasannya.

Dolar pun menjadi semacam paspor ekonomi global. Tanpa stempel itu, perjalanan menjadi jauh lebih sulit.

Karena itulah, ketika Bank Indonesia dan People's Bank of China sepakat bekerjasama, sesungguhnya kita sedang menyaksikan bab kecil dari cerita besar tentang dunia yang perlahan bergerak menuju tatanan keuangan yang lebih multipolar.

Mereka sepakat memperluas penggunaan mata uang lokal, menjajaki peningkatan Bilateral Currency Swap Arrangement, meluncurkan QR lintas batas, memasukkan Bank Mandiri ke dalam Cross-border Interbank Payment System (CIPS), hingga merintis Renminbi Clearing Arrangement di Indonesia.

Ini bukan berarti dolar akan runtuh besok pagi. Tidak sesederhana itu. Dolar masih sangat dominan karena ditopang oleh kedalaman pasar keuangan Amerika, kepercayaan investor global, kekuatan ekonomi, dan jejaring institusional yang dibangun puluhan tahun.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |