Tren Wisata 2026 Lebih dari Sekadar Jalan-jalan

7 hours ago 17

DUNIA pariwisata kini mengalami perubahan besar yang mengubah cara pelancong merencanakan liburan. Tahun 2026, liburan tidak lagi hanya berkunjung ke tempat ikonik atau sekadar bersantai di kolam renang hotel. Para pelancong, terutama milenial dan Gen Z kini lebih mengutamakan pengalaman wisata yang mendalam, partisipatif, dan berkesan.

Fenomena ini diperjelas oleh laporan terbaru berjudul 2026 Global Travel Trends Report dari American Express Travel. Berdasarkan survei terhadap lebih dari 8.000 orang dewasa di tujuh negara besar termasuk Amerika Serikat, Inggris, Jepang, hingga India, terungkap bahwa perjalanan menjadi kebutuhan utama yang sulit digantikan. Bahkan, sebanyak 64 persen responden dari generasi muda bersedia untuk bekerja dengan gaji atau tunjangan yang lebih sedikit, asalkan mendapatkan waktu yang lebih fleksibel untuk berwisata.

Sight-Doing: Belajar Keterampilan Baru di Tempat Wisata

Selama ini berwisata lekat dengan istilah sightseeing atau sekadar melihat-lihat pemandangan. Namun, tren tersebut telah bergeser menjadi sight-doing, seperti dilansir dari Euro News. Para turis saat ini lebih tertarik pada aktivitas langsung yang melibatkan fisik dan kreativitas. Pelancong lebih memilih mengikuti kelas memasak, lokakarya kerajinan tangan daripada hanya berfoto di depan monumen.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Data menunjukkan bahwa hampir 80 persen milenial dan Gen Z memilih aktivitas seperti belajar mendayung kayak di Filipina, membuat alat musik di Indonesia, hingga mencoba seni melukis ubin di Portugal. Pengalaman ini dinilai mampu menumbuhkan rasa menghargai yang lebih dalam terhadap budaya lokal.

Menariknya, sekitar 76 persen responden setuju bahwa keterampilan yang didapat selama liburan seperti belajar membatik jauh lebih berharga dan berkesan dibandingkan dengan hanya membeli souvenir di toko oleh-oleh.

Lore Chasing: Mengejar momen Seru 

Tren kedua yang sedang populer adalah lore chasing. Istilah ini merujuk pada keinginan pelancong untuk merasakan pengalaman yang menarik. Pelancong tipe ini biasanya menyukai spontanitas dan tidak kaku. Mereka sering bepergian tanpa jadwal yang padat, untuk mendapatkan momen yang tidak terprediksi.

Sekitar 82 persen responden muda mengaku tidak keberatan untuk melakukan hal-hal di luar kebiasaan saat bepergian agar merasakan pengalaman yang berkesan. Mereka sangat menghargai pertemuan yang tidak disengaja dengan warga lokal atau menemukan tempat tersembunyi yang belum diketahui banyak orang, seperti dilansir dari Travel and Tour World

Tren ini juga mendorong minat untuk menginap di tempat yang unik. Lebih dari 90 persen generasi muda memilih perjalanan dengan kereta mewah atau menginap di bangunan yang mempunyai nilai sejarah. Bagi mereka, pengalaman yang natural dan tak terencana adalah hal yang berharga daripada mengikuti tren wisata yang ramai di media sosial.

Snackpacking: Berburu Jajanan Lokal yang Unik

Kuliner selalu menjadi bagian penting saat berwisata. Di tahun 2026, makanan menjadi inti dari rencana liburan melalui tren snackpacking. Tren ini fokus pada pencarian jajanan lokal, makanan kaki lima, dan cita rasa unik yang hanya dapat ditemukan di negara asal.

Berdasarkan data survei, sebanyak 89 persen milenial dan Gen Z merasa sangat penting untuk mencicipi jajanan asli di negara yang dikunjungi. Pencarian ini tidak harus di restoran mahal, tetapi juga swalayan, pasar, hingga toko roti di sudut kota. Sebanyak 69 persen pelancong mengaku langsung menuju kedai makanan pinggir jalan untuk mencicipi rasa yang paling autentik. Contoh makanan yang sering diburu pelancong adalah kue cerobong (chimney cakes) di Hungaria, falafel di Mesir, atau kue beras manis (hotteok) di Korea Selatan. Setiap gigitan makanan dianggap sebagai carapaling ideal untuk mengenal identitas budaya sebuah tempat.

Milestones: Petualangan Panjang

Tren terakhir adalah mengubah acara perayaan pribadi seperti ulang tahun, pernikahan, atau reuni menjadi liburan panjang. Banyak orang yang kini menjadikan undangan pernikahan di luar negeri sebagai alasan untuk sekalian berlibur selama beberapa hari.

Sebanyak 82 persen orang yang menghadiri acara tersebut memilih untuk menambah waktu hingga tiga atau empat hari ekstra. Mereka memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mengeksplorasi destinasi sesuai keinginan. Perjalanan yang awalnya mungkin hanya untuk memenuhi undangan, kini juga berubah menjadi kesempatan untuk berwisata.

Fenomena ini menunjukkan bahwa tren bepergian di tahun 2026 telah berkembang menjadi sesuatu yang lebih personal. Pelancong tidak lagi puas hanya dengan menjadi penonton, tapi juga menjadi inti dari cerita pengalaman berlibur. Pada akhirnya, berwisata bukan lagi sekadar seberapa jauh jarak yang ditempuh atau seberapa banyak foto yang diunggah ke media sosial. Fokusnya telah berubah menjadi pengalaman imersif yang berkesan dan berharga bagi pelancong.

Imanda Zahwa berkontribusi dalam penulisan artikel ini

Pilihan editor: Jalan-jalan Sejarah di Pub London

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |