Yogyakarta Operasikan Koperasi Merah Putih tanpa Gerai

1 week ago 39

PEMERINTAH Kota Yogyakarta menyatakan puluhan koperasi merah putih di wilayahnya telah beroperasi dan aktif menjalankan berbagai unit usaha meskipun belum ada yang memiliki bangunan fisik. Sejak kebijakan itu digulirkan Presiden Prabowo Subianto, Pemkot Yogya belum dapat menyediakan lahan untuk syarat pembangunan gerai fisik koperasi yang menetapkan luas lahan minimal 600 meter persegi.

"Kota Yogyakarta tetap melaksanakan aktivitas KKMP (Koperasi Kelurahan Merah Putih) meskipun belum punya gerai fisik karena keterbatasan lahan yang memenuhi syarat untuk infrastrukturnya," kata Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo di sela peresmian kegiatan operasional 1.061 koperasi merah putih serentak secara daring bersama Presiden Prabowo, Sabtu, 16 Mei 2026.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Hasto menuturkan Kota Yogyakarta saat ini sudah memiliki sejumlah unit koperasi merah putih aktif yang salah satunya berfokus pada usaha pengecapan kain batik komersial bernama Yogya Segoro Amarto Reborn. Usaha yang dipusatkan di Kampung Gunungketur, Kecamatan Pakualaman, itu dialokasikan untuk memasok bahan seragam aparatur sipil negara di lingkungan pemerintah daerah setempat.

"Dari usaha itu kemarin sudah berhasil melayani 6.500 seragam batik Segoro Amarto untuk PNS. Semua diproduksi koperasi merah putih," kata Hasto.

Hasto memaparkan kondisi industri setahun lalu, dengan Kota Yogyakarta sebagai kota batik dunia versi UNESCO, masih kekurangan perajin batik cap yang sanggup melayani pesanan seragam berskala besar dalam waktu singkat. 

Pemerintah Kota Yogyakarta menargetkan penguatan ekosistem industri ini secara berkelanjutan dengan mendorong salah satu koperasi bertindak sebagai pengepul utama hasil karya perajin kelurahan lain. Tujuannya agar mampu memasok kebutuhan kain batik bermutu bagi warga lokal ataupun wisatawan.

"Sekarang koperasi merah putih di Kota Yogya menyiapkan diri untuk produksi batik gelombang kedua bagi anak-anak sekolah yang jumlahnya 65 ribu buah," kata Hasto. "Saya kira Yogya sebagai kota batik yang ditetapkan oleh UNESCO ingin mewujudkan kemampuan koperasi merah putih menghidupkan UMKM dan perajin batik di Kota Yogyakarta," ujarnya.

Meski demikian, Hasto mengatakan, untuk menyokong keberadaan fasilitas fisik jangka panjang, Pemerintah Kota Yogyakarta tetap mematangkan persiapan lahan gerai fisik koperasi. Terutama setelah Pemkot Yogyakarta mengantongi izin tertulis atau palilah hak penggunaan tanah dari Keraton Yogyakarta.

Pihak Keraton Yogya, kata dia, menyediakan area seluas kurang-lebih 3.000 meter persegi di kawasan Kecamatan Umbulharjo. Area itu nantinya dibagi menjadi tiga zona peruntukan strategis, masing-masing sebesar 1.000 meter persegi. 

Lahan tahap pertama akan dimanfaatkan penuh sebagai pusat pembangunan infrastruktur utama gerai fisik koperasi kelurahan. Area kedua bakal dikembangkan menjadi pusat budi daya ikan lele dengan sistem bioflok. Sedangkan sisa lahan seluas 1.000 meter persegi difungsikan untuk program pertanian terintegrasi (integrated farming) yang berfokus pada pengolahan sampah organik menjadi produk pupuk siap pakai.

"Kami ingin membikin pupuk yang nanti juga bisa dijual. Ini sekaligus mengatasi sampah karena sampah jadi pupuk," katanya.

Adapun Kepala Dinas Perindustrian Koperasi dan UKM Kota Yogyakarta Tri Karyadi Riyanto menjelaskan peta persebaran keaktifan koperasi merah putih di tingkat akar rumput. Berdasarkan data Dinas, dari total 45 kelurahan yang tersebar di Kota Yogyakarta, tercatat sebanyak 32 kelurahan telah mengoperasikan koperasi secara aktif melalui pemanfaatan lahan pribadi milik para pengurus. 

Unit bisnis yang digulirkan pun bervariasi sesuai dengan karakteristik daerah. Dari industri kreatif perbatikan, penyediaan komoditas bahan pangan pokok, hingga penyediaan jasa Layanan Keuangan Tanpa Kantor dalam Rangka Keuangan Inklusif (Laku Pandai). 

Selain itu, beberapa koperasi kelurahan menjalin kemitraan dengan jaringan perhotelan serta satuan pelayanan pemenuhan gizi guna mendukung kelancaran kegiatan operasional program makan bergizi gratis.

"KKMP di Gunungketur memang disesuaikan potensinya sebagai sentra batik. Kami mendorong KKMP punya aktivitas itu berdasarkan potensi lokal," katanya. Harapannya, dengan adanya koperasi ini, para perajin batik tidak berjalan sendiri. Mereka bisa mengurus bahan baku sampai memasarkannya melalui koperasi.

Ketua KKMP Gunungketur Reza Murtaza memaparkan bahwa kelompoknya telah merampungkan pembuatan 650 lembar pesanan kain batik Segoro Amarto untuk kebutuhan ASN di lingkungan Balai Kota Yogyakarta. Ia mengaku terus mempertahankan ritme produksi rutin sebanyak 40 lembar kain per sesi guna pemenuhan stok berkala. 

"Produksi batik koperasi ini bertujuan melayani permintaan susulan dari para ASN maupun tenaga pendidik, dari guru TK hingga SMP di Kota Yogyakarta yang belum mendapat seragam baru," katanya.

Reza menuturkan produksi batik lebih eksis karena ada instruksi pemerintah untuk kebutuhan seragam. "Dengan adanya koperasi ini, manajemen jadi lebih gampang, para perajin batik terus berproduksi," katanya.

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |