BOYOLALI, JOGLOSEMARNEWS.COM – Ketika sumur tak lagi mengeluarkan setetes air, pilihan warga Desa Mriyan, Kecamatan Musuk, Boyolali, semakin menyempit. Air yang semestinya menjadi kebutuhan paling dasar justru harus dibeli dengan harga ratusan ribu rupiah. Bagi warga yang ekonominya pas-pasan, uang sebanyak itu bukan perkara kecil.
Kemarau yang berlangsung berbulan-bulan memaksa sebagian warga menguras apa yang masih mereka miliki. Ternak dijual, barang-barang di rumah dilepas, sementara mereka yang tak lagi punya sesuatu untuk dijual harus berutang demi mendapatkan air bersih.
Situasi itu setidaknya telah dirasakan warga Mriyan selama tiga hingga empat bulan terakhir. Sumber-sumber air yang selama ini menjadi andalan mengering, membuat warga bergantung pada pasokan air tangki maupun bantuan yang datang secara berkala.
Marsi, salah seorang warga Mriyan, misalnya, harus menyiapkan sekitar Rp175.000 untuk mendapatkan satu tangki air dari penyedia swasta. Air tersebut dipakai untuk kebutuhan sehari-hari bersama anaknya.
“Biasanya beli air tangki Rp175.000 untuk satu tangki. Kadang sebulan sekali. Cukup, karena anggota keluarga tidak banyak, hanya saya dan anak saya, suami sudah meninggal,” tutur Marsi saat ditemui usai mengambil air dari tangki, Minggu (6/9/2026).
Bagi Marsi, membeli air bukan sekadar persoalan mengeluarkan uang belanja. Kondisi ekonomi membuatnya harus memilih aset yang dimiliki agar kebutuhan air tetap terpenuhi.
Satu-satunya ternak miliknya pun akhirnya dijual.
“Untuk membeli air, saya menjual apa saja yang ada di rumah. Ternak itu milik saya satu-satunya, dijual lalu nanti beli sapi lagi kalau ada rezeki,” kata Marsi.
Setelah ternak terjual, kebutuhan air sehari-hari tetap harus dipikirkan. Apalagi hujan menjadi satu-satunya harapan utama untuk mengembalikan sumber air di wilayah tersebut.
Bantuan distribusi air bersih memang sudah beberapa kali datang ke Mriyan. Marsi menyebut wilayahnya setidaknya telah menerima bantuan sebanyak dua kali.
Namun, air bantuan harus digunakan seefisien mungkin. Selain untuk kebutuhan rumah tangga seperti memasak dan mencuci, air juga dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan minum ternak.
Persoalan yang sama dirasakan Sumarmi, warga lainnya. Menurut dia, kekeringan sudah berlangsung cukup lama dan kondisi sumur warga semakin memprihatinkan.
Upaya mendapatkan air dengan menggali sumur lebih dalam pun belum membuahkan hasil.
“Ya sudah sekitar 3-4 bulan lah, Mas. Tidak turun. Air sudah tidak ada memang, kering. Di sini sumur tidak ada airnya. Sampai dikeduk ke bawah juga tidak ada airnya,” kata Sumarmi.
Kondisi itu membuat air tangki menjadi tumpuan warga untuk bertahan melewati musim kemarau.
Masalahnya, harga air tidak sama untuk semua warga. Lokasi rumah menjadi salah satu faktor yang membuat biaya semakin mahal. Warga yang berada di kawasan lebih mudah dijangkau dapat membeli air sekitar Rp200.000 per tangki.
Sementara bagi warga yang tinggal di kawasan lebih tinggi, ongkosnya bisa membengkak hingga Rp300.000 untuk satu tangki.
“Satu tangki ya Rp200 ribu sampai kalau yang di atas sana sampai Rp300 ribu. Ya kalau yang boros paling ya 10 hari, setengah bulan habis airnya. Kalau yang tidak boros ya mungkin sampai 20 hari, 25 hari,” jelas Sumarmi.
Dengan pengeluaran sebesar itu, kemampuan setiap keluarga tentu berbeda. Bagi sebagian warga, membeli air tangki mungkin masih bisa dilakukan. Namun bagi keluarga dengan kondisi ekonomi terbatas, kebutuhan air dapat berubah menjadi beban yang harus dibayar dengan menjual aset maupun berutang.
Karena itu, warga berharap bantuan air bersih tetap diberikan selama kondisi sumber air belum kembali normal. Tetapi mereka juga menginginkan solusi yang tidak berhenti pada pengiriman tangki setiap kali kemarau datang.
Warga berharap ada infrastruktur yang mampu menyediakan sumber air secara lebih permanen sehingga persoalan serupa tidak terus berulang setiap musim kemarau.
Salah satu harapan yang paling diinginkan warga adalah pembangunan sumur bor di wilayah yang mengalami kekeringan.
“Ya dibuatkan sumur yang bisa keluar airnya,” harap Sumarmi.
Harapan tersebut sekaligus menunjukkan persoalan yang lebih besar di balik krisis air Mriyan: bagi warga, bantuan tangki memang penting untuk bertahan hari ini, tetapi sumber air permanen dibutuhkan agar mereka tidak kembali menjual ternak atau berutang ketika kemarau berikutnya tiba. [*] Disarikan dari sumber berita media daring
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.


















































