Belum Usai Kasus 512 Santri di Sidoarjo, Puluhan Siswa Sleman Diduga Keracunan MBG

4 hours ago 20
Ilustrasi keracunan makanan | kreasi AI

SLEMAN, JOGLOSEMARNEWS.COM Kasus dugaan keracunan makanan yang melibatkan penerima manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali muncul. Setelah 512 santri di Sidoarjo, Jawa Timur, dilaporkan mengalami gangguan kesehatan, kini puluhan siswa di Kapanewon Sleman, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), juga mengalami gejala yang diduga berkaitan dengan makanan MBG.

Kasus di Sleman memang belum bisa dipastikan disebabkan oleh MBG. Namun, kemunculan sejumlah siswa yang mengalami keluhan kesehatan setelah mengonsumsi menu dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang sama membuat pemerintah daerah bergerak cepat.

Sedikitnya 28 penerima manfaat yang terdiri atas 25 siswa SD, dua siswa TK dan seorang guru dilaporkan mengalami gejala serupa.

Bahkan, informasi terbaru menunjukkan keluhan tidak hanya terjadi pada siswa TK dan SD. Sejumlah siswa SMA Negeri atau sederajat di wilayah Kapanewon Sleman yang juga menerima makanan dari SPPG tersebut dilaporkan mengalami gejala serupa.

Jumlah siswa SMA yang terdampak masih dalam proses pendataan.

Panewu Sleman Rohmiyanto mengatakan kasus tersebut pertama kali terdeteksi setelah seorang siswa SD mengalami sakit perut pada Senin (31/8/2026) malam dan kemudian mendapatkan pemeriksaan di fasilitas kesehatan.

Dari penelusuran berikutnya, ditemukan sejumlah penerima manfaat lain yang mengalami keluhan kesehatan, meski sebagian besar kondisinya tergolong ringan dan tetap mengikuti kegiatan sekolah.

“Penerima manfaatnya kan banyak toh, tapi yang ada laporan (pertama) itu yang siswa SD, satu siswa rawat jalan. Yang lainnya, berdasarkan hasil tracking google form itu, bergejala ringan tapi tetap sekolah,” kata Rohmi, Rabu (2/9/2026).

Menurut Rohmi, keluhan yang dialami para siswa rata-rata mulai muncul pada Senin malam hingga Selasa (1/9/2026) pagi. Gejala yang dilaporkan antara lain pusing dan diare.

Satu siswa sempat dibawa ke Puskesmas untuk mendapatkan penanganan medis. Namun, kondisinya tidak sampai membutuhkan rawat inap. Setelah mendapatkan perawatan, siswa tersebut diperbolehkan pulang dan kondisinya berangsur membaik.

Persoalan kemudian berkembang setelah penelusuran menemukan adanya laporan gejala serupa dari penerima manfaat lain yang mendapatkan menu MBG dari dapur SPPG yang sama.

Rohmi mengatakan, Pemerintah Kapanewon Sleman masih menunggu hasil pendataan untuk memastikan berapa jumlah keseluruhan siswa SMA atau sederajat yang mengalami keluhan.

SPPG Diperiksa, Sampel Makanan Diamankan

Dugaan kejadian luar biasa tersebut langsung ditindaklanjuti dengan pemeriksaan terhadap SPPG penyedia makanan.

Dinas Kesehatan Sleman melalui Puskesmas Sleman mendatangi langsung lokasi dapur SPPG untuk melakukan pemeriksaan sanitasi. Kondisi area pengolahan makanan turut diperiksa sebagai bagian dari penelusuran penyebab munculnya keluhan kesehatan pada penerima manfaat.

Selain mengecek kondisi dapur, petugas juga mengamankan sampel makanan MBG yang dibagikan kepada penerima manfaat pada Senin (31/8/2026).

Menu yang menjadi bahan pemeriksaan terdiri atas nasi putih, bola-bola ayam saus mentai, tahu pop krispi, tumis pokcoy dan buah melon.

Sampel makanan yang merupakan retention sample tersebut selanjutnya dibawa untuk menjalani pemeriksaan laboratorium oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman.

“Sampel sudah dicek. Dinkes sudah mendatangi SPPG-nya, kemudian cek sanitasi dan sebagainya termasuk sampelnya di cek juga. Kita tunggu saja (hasilnya),” kata Rohmi.

Hasil pemeriksaan laboratorium nantinya menjadi salah satu dasar untuk memastikan apakah keluhan yang dialami para siswa memang berkaitan dengan makanan yang mereka konsumsi.

Untuk sementara, operasional SPPG yang menyediakan makanan tersebut dihentikan.

“Kalau SPPG-nya sempat disetop hari ini. Hari ini informasinya SPPG disetop, sambil menunggu (hasil uji lab) nanti, berkaitan sampel juga apakah nanti ada indikasi atau nggak,” jelas dia.

Komunikasi Antarwilayah Diperkuat

Rohmi menjelaskan, di wilayah Kapanewon Sleman terdapat 10 SPPG yang melayani program MBG.

Setiap kali muncul persoalan terkait layanan SPPG, koordinasi antara pengelola dan pemerintah kapanewon dilakukan agar informasi mengenai kejadian dapat segera ditindaklanjuti.

Menurut Rohmi, pola komunikasi tersebut penting mengingat jumlah penerima manfaat program MBG cukup besar. Dengan demikian, apabila muncul dugaan masalah keamanan pangan, penanganannya dapat dilakukan sedini mungkin.

Kasus di Sleman ini muncul hampir bersamaan dengan kasus dugaan keracunan massal di Pondok Pesantren Mambaul Hikam, Sidoarjo, Jawa Timur.

Dalam kasus Sidoarjo, sebanyak 512 santri dilaporkan mengalami gangguan kesehatan setelah menyantap makanan MBG. Badan Gizi Nasional (BGN) bahkan menjatuhkan sanksi berat dengan membekukan operasional SPPG Talang Angin selama 30 hari dan mengusulkan pergantian pimpinan SPPG tersebut.

Perbandingan kedua kasus tersebut tidak serta-merta membuktikan adanya persoalan yang sama. Namun, munculnya dugaan gangguan kesehatan pada penerima manfaat MBG di sejumlah daerah kembali menempatkan aspek keamanan pangan sebagai persoalan yang tidak bisa dianggap sepele.

Di Sleman, kepastian mengenai penyebab keluhan para siswa masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium. Sementara itu, pemerintah daerah melakukan pendataan dan pemantauan terhadap penerima manfaat lain yang mengonsumsi makanan dari SPPG tersebut.

Hingga berita ini ditulis, Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan Sleman, dr. Khamidah Yuliati, belum memberikan tanggapan ketika dikonfirmasi.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman Mustadi juga mengaku belum mendapatkan informasi mengenai kasus dugaan keracunan tersebut.

“Saya belum dapat info Mas. Tanya Dinkes belum respon,” ujarnya, singkat. [*]  Disarikan dari sumber berita media daring

Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |