Membangun Budaya Kesadaran Bencana Bisa Dilakukan Sejak Dini

2 hours ago 18

DIREKTORAT Pemetaan dan Evaluasi Risiko Bencana Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Trevi Jayanti Puspasari meminta seluruh lapisan masyarakat menanamkan ilmu soal siapsiagaan bencana sejak belia. Menurut Trevi penting membangun budaya kesadaran bencana kepada usia muda, terutama pada anak-anak Sekolah Dasar.

Analisis bencana BNPB itu mengatakan orang dewasa cenderung menyangkal perihal potensi bencana alam yang berisiko muncul kapan pun. Padahal, ucap Trevi, Indonesia secara alami berada di jalur dengan tingginya aktivitas dan vulkanik atau Ring of Fire. BNPB bahkan mencatat lebih dari 4.700 peristiwa bencana alam sepanjang tahun 2025.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

“Untuk membangun budaya kesiapsiagaan bencana memang ada baiknya dilakukan sejak dini, karena anak-anak masih bisa diberikan edukasi tentang kesadaran mitigasi bencana,” kata Trevi pada acara Peluncuran Program Kolaboratif Untuk Kesiapsiagaan Bencana Sejak Dini antara TOA Indonesia dan Universitas Indonesia di Depok, Jawa Barat, Senin, 4 Mei 2026.

Di sisi lain, saat ini Indonesia belum menjadikan mitigasi bencana sebagai pelajaran wajib untuk semua tingkatan pendidikan. “Kalau secara resmi mengadopsinya ke dalam kurikulum memang belum. Tapi, kami sudah berupaya memperkenalkan kepada pihak-pihak, seperti dinas pendidikan dan kementerian/lembaga,” ucap dia.

Dia juga mengatakan bahwa ilmu kebencanaan sejauh ini masih belum masuk dalam buku ajar. Tapi, kata dia, sudah ada pengenalan kepada usia muda menyoal mitigasi bencana.

Sementara itu, lanjut Trevi, BNPB telah berkolaborasi dengan Dinas Pendidikan melakukan edukasi ke masyarakat tentang kebencanaan. Namun, hanya sebatas membangun infrastruktur penunjang lainnya. Ia menambahkan bahwa upaya mitigasi membutuhkan kemampuan masyarakat dalam memahami dan mendeteksi bencana guna meminimalisir risiko. Sedangkan untuk masukan ke dalam kurikulum resmi masih menyisakan beragam persoalan.

Ketika para pengajar belum memahami aspek soal kebencanaan secara komprehensif nantinya malah mengaburkan aspek-aspek kebencanaan tersebut. “Maka, saat ini guru hanya sebagai pendamping saja, karena ketika dijadikan kurikulum resmi, artinya harus ada peningkatan kapasitas guru,” kata dia.

Hal serupa juga diungkapkan Dosen Geologi & Geofisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia , Asri Oktavioni Indraswari. Asri mengingatkan Indonesia adalah negara rawan bencana, perlu adanya penguatan sistem bencana dan pemahaman kesiapsiagaan komprehensif. Asri mendorong kolaborasi lintas sektor seperti, akademisi, pemangku kepentingan, dan pengusaha. “Literasi kebencanaan di Indonesia membutuhkan upaya ekstra dalam menerjemahkan informasi menjadi tindakan,” kata Asri.

Salah satu bentuk kontribusi dunia pendidikan yaitu, melakukan penelitian yang nantinya akan digunakan menunjang kesiapsiagaan bencana di Indonesia. Tidak hanya itu, FMIPA UI juga menyumbang aplikasi Earthquake Warning Alert System alias Ewas di sejumlah provinsi dengan potensi rawan bencana alam, seperti Maluku.

Sebelumnya, TOA Indonesia dan Universitas Indonesia mengembangkan dua video animasi edukasi bertajuk “Aku Harus Apa?”. Video itu akan disosialisasikan pada 5 ribu siswa sekolah dasar di wilayah Sumatera, Jawa, dan Sulawesi. Konten ini mengangkat langkah respons sederhana namun krusial untuk tiga skenario bencana, yakni kebakaran, gempa bumi, dan tsunami.

Pendekatan ini dipilih untuk menempatkan anak-anak sebagai penggerak edukasi sejak dini. Melalui animasi, pesan kesiapsiagaan diharapkan dapat tersampaikan secara lebih efektif, sehingga dapat menjembatani kesenjangan pemahaman yang selama ini terjadi. 

Materi video dikembangkan melalui riset kolaboratif bersama para ahli, termasuk referensi dari Research Institute of Disaster Science (IRIDES) di Tohoku University, Jepang, serta observasi lapangan di berbagai daerah lokal. "Kami meyakini teknologi tersebut dapat diimplementasikan secara optimal, hingga memberikan kontribusi nyata dalam melindungi masyarakat,” ujar Brand & Community Manager TOA Indonesia, Clara Dinny Aryanti.

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |