SEMARANG, JOGLOSEMARNEWS.COM —Tersangka dugaan penipuan dan atau penggelapan lomba tari tingkat nasional, Mei Sulistyoningsih akhirnya ditahan Kejaksaan Tinggi Jateng. Lomba tersebut digelar oleh tersangka dengan iming- Iming piala Gubernur Jawa Tengah.
Zainal Petir selaku pengacara para korban menyampaikan sejak Senin, 7 September Mei Sulistyoningsih yang bergelar Doktor tersebut telah ditahan Kejaksaan setelah penyidik Polda Jateng menyerahkan berkas dan tersangka kepada jaksa dan dianggap telah lengkap pemberkasan perkaranya.
“Doktor MS yang juga dosen UPGRIS Semarang kini ditahan di Lapas Wanita Bulu Semarang. Semoga dengan kejadian ini tidak ada korban-korban lain, apalagi korban kebanyakan anak- anak di bawah umur. Mereka kecewa dan stres sampai sekarang,” ujar Zainal Petir.
Sebelumnya penyidik Unit 1 Subdit 1 Ditreskrimum Polda Jateng menahan Mei Sulistyoningsih (MS), Kamis(28/11/2025). Ia menjadi tersangka dugaan tindak pidana penipuan dan atau penggelapan lomba tari yang melibatkan anak- anak TK, SD, dan SMA.
“Namun, 17 Desember 2025, doktor MS dikeluarkan dari tahanan Polda karena ada permohonan penangguhan penahanan alasan medis. Tapi malah pamer di grup komunitas mereka senang- senang, termasuk pamer acara di Jogja yang bikin para korban makin geram,” ujar Petir.
Sebenarnya, tambah Petir, para korban telah lama melaporkan tersangka, pada 30 Desember 2024, tercatat dengan nomor LP/B/194/XII/2024/ SPKT/POLDA JAWA TENGAH terkait dugaan penipuan dan atau penggelapan.
Zainal Abidin Petir menjelaskan, kasus dugaan penipuan lomba tari ini bermula saat komunitas Semarang Economy Creative (SEC) yang diketuai tersangka menggelar lomba tari di Taman Indonesia Kaya( TIK), Kota Semarang pada Jumat, 20 Desember 2024.
Dalam lomba itu, kata Petir, tersangka menjadi ketua penyelenggaranya. Peserta lomba yang merupakan anak-anak dijanjikan piala atau trophy Gubernur Jateng, uang pembinaan dan sertifikat. “Saat hari pelaksanaan apa yang dijanjikan tidak ada, bahkan soundsystem dan panggung tidak ada di lokasi,” ungkap Petir.
Petir menceritakan kondisi yang dialami peserta lomba waktu itu sangat menyedihkan. “Mereka sudah menyewa pakaian tari, sewa properti (topeng, ornamen, pedang-pedangan, dan lain-lain).
“Juga memanggil guru les tari, sewa jasa MUA (make up artist), ongkos latihan persiapan lomba, biasanya 3 bulan. Namun, pada saat pelaksanaan tidak jadi tampil padahal sudah sewa alat transportasi dan lain-lain,” ucap Petir.
Selain rugi materi, hal itu juga menimbulkan dampak psikologis bagi anak. “Mereka saling menangis histeris, malu dan stres tidak jadi tampil,” ujarnya.
Petir menuturkan, ada anak yang trauma ketika melewati Taman Indonesia Kaya, sama sekali tidak mau menari karena kecewa, dan keluar dari sanggar tari.
“Korbannya ada 35 kelompok/tim terdiri dari sanggar dan sekolahan, mulai TK sampai SMA dengan jumlah peserta 178 orang. Kerugian diperkirakan lebih dari 100 juta,” kata Petir. (Ali)
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.


















































