YOGYAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Tiga dekade telah berlalu sejak wartawan Bernas Fuad Muhammad Syafrudin alias Udin meninggal dunia setelah mengalami penganiayaan brutal. Namun, ingatan tentang malam terakhirnya belum benar-benar padam.
Di sebuah kedai kopi di Yogyakarta, Minggu (30/8/2026) sore, orang-orang yang pernah bekerja dan bersahabat dengan Udin kembali membuka lembaran lama itu. Bukan sekadar untuk mengenang, tetapi untuk mengingat kembali siapa Udin, apa yang dikerjakannya menjelang kematian, serta bagaimana tanda-tanda ganjil muncul setelah dia ditemukan dalam kondisi kritis.
Acara bertajuk “Kawan2 Udin Berkisah” yang digelar Yayasan Panbers 52 (Paguyuban Alumni Bernas Jenderal Sudirman 52) bersama insan pers PWI dan AJI tersebut menjadi ruang bagi para sahabat Udin untuk menuturkan kembali potongan-potongan cerita yang mereka simpan selama puluhan tahun.
Lantunan lagu “Buat Penyaksi” karya Iwan Fals membuka pertemuan. Lagu itu memiliki ikatan emosional tersendiri dengan kalangan wartawan Bernas karena pernah diperdengarkan di ruang redaksi beberapa bulan setelah Udin meninggal.
Mantan Manajer Produksi Harian Bernas Agus Widhartono menjadi salah satu orang yang kembali menghidupkan memori tersebut.
Menurut Agus, lagu “Buat Penyaksi” pertama kali diperdengarkan di ruang redaksi Bernas sekitar November 1996 melalui kaset yang diputar menggunakan tape compo kecil. Saat itu, kematian Udin masih menyisakan duka sekaligus tanda tanya besar bagi rekan-rekannya.
“Udin tidak lagi milik kita atau kelompok Bernas saja, tetapi milik negara ini, milik kita bersama. Semangatnya diabadikan dalam lagu, buku, dan sejarah kebebasan pers,” ujarnya.
Dari lagu itulah Agus kemudian membawa ingatan para peserta kembali ke malam 13 Agustus 1996, beberapa jam sebelum Udin ditemukan dalam kondisi kritis.
Sekitar pukul 21.30 WIB, Agus masih melihat Udin berada di kantor Bernas. Ketika itu, Udin mengenakan jaket kulit yang menjadi pakaian kesayangannya.
Udin kemudian berpamitan hendak pulang. Tidak lama berselang, sekitar pukul 22.00 WIB, dia meninggalkan kantor dengan mengendarai sepeda motor Honda Tiger miliknya.
Sekitar satu setengah jam kemudian, kabar mengejutkan datang ke kantor.
Saat proses penyelesaian halaman koran hampir rampung, satpam kantor Tribun menerima telepon yang mengabarkan Udin mengalami kecelakaan. Informasi tersebut kemudian diteruskan kepada Agus.
Agus segera meninggalkan urusan penyelesaian koran dan menuju UGD RS Bethesda Yogyakarta.
Di rumah sakit itu, dia mendapati istri Udin, Marsiyem, dalam kondisi terpukul. Sementara Udin terbaring koma dengan darah keluar dari hidung dan telinganya. Bagian dahinya juga mengalami luka berat.
Namun, kondisi fisik Udin justru membuat Agus dan rekan-rekannya mempertanyakan anggapan bahwa kejadian tersebut merupakan kecelakaan lalu lintas biasa.
“Saat kaosnya saya singkap, tidak ada bekas lecet atau gesekan khas kecelakaan motor. Perutnya legok.Dari situ kami yakin, ini bukan kecelakaan lalu lintas,” tegas Agus.
Tiga hari kemudian, Udin meninggal dunia setelah menjalani perawatan di RS Bethesda Yogyakarta.
Berita Terakhir yang Belum Sempat Dibaca Udin
Kesaksian lain datang dari Heru Prasetyo, mantan redaktur yang pernah bekerja bersama Udin di Bernas.
Heru mengenal Udin setelah pindah tugas dari Semarang. Dalam struktur kerja redaksi saat itu, Heru menjadi editor, sedangkan Udin merupakan reporter.
Kesan pertama Heru terhadap Udin ternyata jauh dari gambaran wartawan yang biasa dia bayangkan. Penampilan Udin dinilainya lebih menyerupai seorang preman. Wajahnya juga tidak mudah dihiasi senyum.
Tetapi kesan itu berubah setelah keduanya bekerja bersama.
Udin ternyata mudah berkomunikasi, dekat dengan masyarakat, dan memiliki jaringan pergaulan yang luas. Heru mengingat bagaimana para pedagang di kawasan Parangkusumo mengenali Udin ketika mereka melakukan peliputan.
“Dulu saya pernah diajak liputan ke Parangkusumo, dan banyak pedagang yang mengenal Udin. Mereka (pedagang) memanggil Udin dengan sebutan mas wartawan,”urainya.
Bagi Heru, Udin juga bukan tipe reporter yang sekadar mengejar berita. Dia kerap mengajak rekan-rekannya berdiskusi mengenai berbagai persoalan.
Dan pada malam sebelum tragedi, Udin masih menjalankan aktivitas jurnalistiknya.
Sekitar pukul 20.00 WIB pada 13 Agustus 1996, beberapa jam sebelum ditemukan dalam kondisi kritis, Udin menyerahkan sebuah berita kepada Heru.
Berita tersebut mengungkap dugaan penyimpangan pembangunan sebuah ruas jalan. Proyek yang semestinya memiliki panjang dua kilometer itu disebut hanya direalisasikan sekitar 1,3 kilometer.
“Udin itu terakhir sempat menulis berita soal penyimpangan pembangunan jalan. Tapi berita itu (yang sudah ditayangkan di koran) belum sempat dibaca olehnya,”jelasnya.
Ada pula satu cerita lain yang terus melekat dalam ingatan wartawan senior Putut Wiryawan.
Beberapa hari sebelum penganiayaan, Udin sempat menyampaikan kepada Putut bahwa dirinya mempunyai sebuah berita penting.
“Kang, aku duwe berita apik. Ono calon bupati nyuap 1 M,” kata Putut.
Mendengar pengakuan tersebut, Putut meminta Udin memastikan bukti sebelum menuliskannya.
“Kowe duwe buktine ora? Tulis!”
Percakapan singkat itu kini menjadi salah satu potongan ingatan yang kembali dibicarakan setelah 30 tahun berlalu.
Bukan Sekadar Mengenang
Bagi Yayasan Panbers 52, pertemuan tersebut bukan sekadar agenda nostalgia para mantan pekerja Bernas.
Ketua Yayasan Panbers 52 Adi Prabowo mengatakan peringatan tiga dekade meninggalnya Udin sebelumnya juga telah dilakukan oleh PWI DIY dan AJI DIY. Namun, pihaknya ingin menghadirkan ruang berbeda dengan mempertemukan kembali orang-orang yang pernah berinteraksi langsung dengan Udin.
” Peringatan Udin sudah dilaksanakan PWI, AJI. Kami dari Yayasan Panbers ingin kumpulkan teman-teman Udin untuk bercerita tentang pengalamannya bersama almarhum,”imbuhnya.
Adi berharap kisah Udin tidak berhenti sebagai cerita masa lalu. Menurut dia, masyarakat perlu terus memiliki kesadaran terhadap pentingnya media sekaligus tidak berhenti menagih keadilan atas kematian sang wartawan.
Semangat itu juga mendapatkan dukungan dari manajemen Kopi Nako. Perwakilan manajemen, Rizky Anugrah, menilai keberanian Udin tetap relevan untuk generasi muda.
” Mudah-mudahan di negara kita ini kebebasan pers lebih baik dari sebelumnya,”urainya.
Dari organisasi profesi wartawan, Sekretaris PWI DIY Primaswolo Sudjono, S.Pt menyampaikan bahwa PWI DIY kini mulai mengupayakan pengusulan Udin sebagai pahlawan nasional.
Sementara Ketua AJI DIY Hartanto Ardi Saputra alias Rimba menyebut peringatan tiga dekade kematian Udin juga diwujudkan melalui Festival Udin 2026 di ISI Yogyakarta.
AJI DIY juga menyiapkan rencana untuk mengangkat kisah Udin ke dalam film. Upaya tersebut diharapkan dapat menjadi medium untuk mewariskan nilai-nilai yang selama ini melekat pada sosok Udin, terutama keberanian, integritas, dan keberpihakan terhadap kebenaran dalam menjalankan profesi jurnalistik.
Tiga puluh tahun setelah tragedi itu, nama Udin masih disebut.
Kesaksian para sahabatnya kembali memperlihatkan bahwa sebelum kematiannya, Udin tetap bekerja sebagai wartawan, menulis soal dugaan penyimpangan, dan berusaha mengungkap informasi yang menurutnya penting bagi publik.
Karena itu, mengenang Udin bukan semata-mata mengulang cerita tentang seorang wartawan yang tewas. Ia juga menjadi cara untuk mengingat kembali pertanyaan yang belum sepenuhnya hilang: sejauh mana kebebasan pers benar-benar dilindungi, dan apakah keadilan untuk Udin telah benar-benar menemukan titik akhirnya? [*] Disarikan dari sumber berita media daring
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.


















































