Ini Sebab Evolusi Ikan Menggerus Tangkapan Nelayan

7 hours ago 16

KENAIKAN suhu di lautan belakangan membawa perubahan genetik pada banyak spesies ikan. Meski bisa membantu ikan melewati perubahan iklim, proses evolusi itu justru diprediksi akan menyulitkan nelayan tradisional dan industri perikanan tangkap di masa depan.

Iktiologis dan pengajar di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB University, Mohammad Mukhlis Kamal, mengatakan perubahan iklim mempengaruhi ikan melalui tiga jalur utama: peningkatan suhu perairan, penurunan oksigen terlarut, serta pengasaman laut (ocean acidification). Kenaikan suhu laut berpengaruh terhadap proses metabolisme, laju pertumbuhan, hingga musim pemijahan ikan.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Di saat yang sama, pengurangan oksigen terlarut akan lebih membebani spesies yang membutuhkan banyak oksigen, terutama ikan-ikan perenang cepat seperti tuna, cakalang, dan tongkol. Sementara itu, pengasaman laut dapat memengaruhi pertumbuhan sisik dan tulang pada larva ikan. “Kombinasi suhu, oksigen, dan tingkat keasaman tersebut menciptakan tekanan seleksi alam yang lebih kuat terhadap populasi ikan,” katanya kepada Tempo, pada Sabtu, 6 Juni 2026.

Pemanasan laut tak mengusik kehidupan ikan kecil. Sebaliknya, ikan berukuran besar yang menyimpan biomassa lebih tinggi akan semakin tertekan. Dari sudut pandang perikanan, kata Mukhlis, ukuran tubuh yang lebih kecil menandakan pengurangan biomassa tangkapan. Ukuran tubuh ikan yang menjadi—bentuk adaptasi terhadap anomali lingkungan—menandakan jumlah telur yang dihasilkan lebih sedikit.

Walhasil, “rekrutmen” atau masuknya individu baru ke dalam populasi ikan, termasuk yang biasa ditangkap kapal nelayan, dapat menurun tajam. “Padahal keberlanjutan perikanan sangat bergantung pada kemampuan populasi menggantikan ikan yang telah ditangkap,” tutur Mukhlis.

Migrasi Ikan ke Perairan Dalam

Dampak lain dari pemanasan laut adalah perubahan distribusi ikan. Untuk menghindari suhu yang semakin panas di permukaan, ikan cenderung bergerak ke perairan yang lebih dalam. Perubahan ini akan menuntut adaptasi dari pelaku sektor perikanan tangkap, termasuk soal desain alat tangkap dan peningkatan biaya operasional.

Beberapa pemodelan kelautan, Mukhlis meneruskan, memetakan risiko hilangnya kehilangan sebagian populasi ikan di perairan Indonesia akibat pemanasan laut. Sebagai negara tropis, kenaikan suhu yang relatif kecil di Tanah Air dapat menimbulkan dampak besar, terutama karena banyaknya spesies ikan bergerak menuju wilayah yang lebih dingin—umumnya di lintang yang lebih tinggi.

Sebagai contoh, hasil pemodelan pada ikan cakalang menunjukkan kecenderungan pergeseran populasi ke arah perairan yang lebih utara. “Mereka menuju kawasan sekitar Taiwan,” kata Mukhlis.

Evolusi Ikan VS Potensi Perikanan Tangkap

Seiring evolusi, Mukhlis menjelaskan, perairan Indonesia berpotensi kehilangan sebagian spesies lokal yang selama ini menjadi andalan perikanan tangkap. Populasi ikan migrasi bernilai ekonomi tinggi, seperti tuna, cakalang, dan tongkol, diperkirakan akan berkurang.

Pada saat yang sama, dapat terjadi pergeseran komposisi spesies dari kelompok dengan tingkat trofik tinggi dan nilai ekonomi besar menuju spesies pada tingkat trofik lebih rendah yang umumnya memiliki nilai ekonomi lebih rendah.

Perubahan ini bisa menciptakan kekosongan relung (niche) di ekosistem. “Kondisi yang mengundang datangnya spesies baru, mungkin termasuk yang invasif,” ucap Mukhlis.

Dalam Laporan Premium Tempo: Mengapa Evolusi Ikan Berpotensi Mengganggu Tangkapan Nelayan, Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Rudhy Gustiano, menegaskan bahwa evolusi tidak bekerja untuk memenuhi kebutuhan manusia. "Seleksi alam alam lebih mengutamakan keberhasilan bertahan hidup dan reproduksi," ujarnya kepada Tempo.

Di tengah perubahan iklim, kata Rudhy, ikan dapat berkembang biak pada usia yang lebih muda sehingga peluang mewariskan gen meningkat sebelum individu tersebut tertangkap. Namun, strategi tersebut juga memiliki konsekuensi terhadap ukuran tubuh ikan. "Ikan yang matang lebih dini sering menghasilkan pertumbuhan maksimum lebih rendah, sehingga ukuran tangkapan mengecil," katanya.

Perilaku ikan turut berubah. Menurut Rudhy, individu yang lebih waspada atau lebih mampu menghindari alat tangkap memiliki peluang hidup yang lebih tinggi. Jika sifat tersebut diwariskan dan semakin umum dalam populasi, ikan menjadi lebih sulit ditangkap sehingga hasil tangkapan dapat menurun.

Dampak yang ditimbulkan tidak hanya berkaitan dengan ekonomi perikanan tetapi juga kualitas gizi masyarakat. Di banyak negara Asia Tenggara, dia meneruskan ikan merupakan sumber utama protein hewani sekaligus sumber penting asam lemak omega-3, zat besi, seng, dan vitamin B12.

Artinya, perubahan komposisi spesies tangkapan bisa mengganggu kualitas nutrisi yang diterima masyarakat. "Jika tangkapan bergeser ke spesies yang lebih kecil atau kurang bernilai gizi, masalah kita bukan hanya jumlah makanan, tapi juga soal kualitas nutrisi masyarakat," tutur dia.

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |