Waspada Infeksi Jantung Anak, Kenali Gejala dan Deteksi Dini

8 hours ago 24

Mengenali jenis infeksi jantung pada anak serta pentingnya deteksi dini demi mencegah gagal jantung di usia muda.

8 Juni 2026 | 17.03 WIB

Ilustrasi anak sakit. Shutterstock

Perbesar

Ilustrasi anak sakit. Shutterstock

KESEHATAN jantung anak sering kali luput dari perhatian, terutama terkait penyakit jantung akibat infeksi kuman. Pemahaman yang matang mengenai gejala awal penyakit ini sangat krusial agar diagnosis bisa ditegakkan secepat mungkin oleh dokter spesialis konsultan jantung anak. Sebab jika penanganan medis terlambat dapat berakibat fatal bagi anak.

Dokter spesialis anak bidang kardiologi anak Sarah Rafika Nursyirwan, menjelaskan bahwa infeksi ini terjadi akibat kuman seperti bakteri, virus, atau jamur yang menyerang lapisan jantung, maupun karena respons autoimun tubuh. Menurut dia, infeksi pada jantung bisa berakibat fatal karena merusak fungsi organ vital yang memompa darah ke seluruh tubuh.

Infeksi DRA 

Infeksi jantung pada anak terdiri dari empat kelompok utama berdasarkan lokasi lapisannya, yaitu perikarditis (selaput luar), miokarditis (otot tengah), endokarditis infektif (lapisan dalam), dan Demam Rematik Akut (DRA). Khusus DRA dapat berkembang menjadi penyakit jantung rematik (RHD), bukan infeksi langsung ke jantung. Tapi reaksi keliru dari sistem imun (autoimun) pasca-infeksi bakteri Streptococcus Grup A di tenggorokan atau kulit sekitar satu hingga empat minggu sebelumnya.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Karena adanya kemiripan protein tubuh dengan kuman tersebut, antibodi anak justru berbalik menyerang organ tubuhnya sendiri, terutama katup jantung. "Indonesia saat ini menempati peringkat keempat di dunia untuk kasus penyakit jantung rematik ini, tepat setelah China, India, dan Pakistan," kata Sarah, dalam seminar media yang digelar virtual, pada Selasa 2 Juni 2026.

Risiko DRA paling sering mengintai anak usia sekolah (5–15 tahun), terutama yang tinggal di lingkungan padat penduduk, mengalami gizi kurang, atau memiliki kerentanan genetik keluarga. Uniknya, antibodi yang keliru ini tidak hanya merusak katup jantung, tetapi juga menyerang sendi hingga memicu nyeri berpindah-pindah, menyebabkan ruam kemerahan di kulit (erythema marginatum), hingga menyerang batang otak yang memicu gerakan wajah, tangan, dan kaki yang tidak terkendali (Sydenham's chorea). Jika menyerang jantung, gejalanya meliputi jantung berdebar, lelah, sesak napas, hingga demam berkepanjangan.

Kenali Gejala Bahaya

Sementara itu, Ketua Pengurus Pusat IDAI, Piprim Basarah Yanuarso, mengingatkan orang tua untuk tidak menyepelekan radang amandel atau infeksi kulit pada anak. Jika amandel meradang merah tanpa disertai batuk yang nyata namun disertai nyeri tenggorokan, anak harus segera diperiksa. Jika terbukti karena bakteri Streptococcus, pengobatan antibiotik yang adekuat selama minimal 10 hari wajib dituntaskan. "Langkah ini sangat krusial untuk memutus mata rantai agar infeksi tidak berlanjut merusak katup jantung secara permanen," ujarnya.

IDAI mengimbau orang tua untuk segera membawa anak ke fasilitas kesehatan jika mendapati gejala bahaya seperti sesak napas yang memberat, bibir atau kuku kebiruan, nyeri dada, atau anak mendadak pingsan. Selain deteksi dini yang melibatkan sinergi faskes primer hingga tersier, pemberian imunisasi lengkap pada anak juga menjadi salah satu benteng utama yang efektif untuk mencegah infeksi virus dan bakteri pemicu radang jantung.

Imanda Zahwa berkontribusi dalam penulisan artikel ini

Pilihan editor: Waspada Anemia Defisiensi yang Merusak Daya Ingat Anak

Read Entire Article
Pemilu | Tempo | |